Underwriter dalam Bisnis Asuransi

Sering saya melihat seorang Agen dengan wajah kusut sementara di depannya berserakan dokumen dan form form di mejanya. Kelihatan raut wajahnya menunjukkan kejengkelan. Dan ketika saya berjalan ke arah mejanya, sorot matanya menatap saya, seakan ingin mencurahkan sesuatu.

Tidak butuh waktu lama keluarlah apa yang dibenaknya. Segala bentuk kekesalannya ditumpahkan ke ‘mahluk’ yang dinamakan Underwriting. Sumpah serapahpun sempat keluar dari kata katanya. Underwriting cerewet.

“Gak tahu kita kerja di lapangan susahnya seperti apa…koq mempersulit…” 
“Ini hanya UP (Uang Pertanggungan) kecil aja koq dibuat ruwet…”
“Koq diminta medis tambahan? Kenapa ga sekalian…ini kan merepotkan nasabah?”

Kalimat kalimat di atas sering saya didengar dari ungkapan teman teman agen. Mereka seperti sangat alergi mendengar kata underwriting. Seakan dalam pikiran mereka Underwriting adalah musuh mereka.

Sebenarnya apa sih Underwriting itu ?

Underwriting dalam sebuah perusahaan asuransi adalah sebuah divisi yang menyeleksi pengajuan seorang calon nasabah hingga polis asuransi nya terbit. Orang yang yang berada pada divisi ini disebut Underwriter.

Mengapa harus ada Underwriting?

Perusahaan asuransi didirikan tentunya dengan orientasi sama dengan perusahaan keuangan lainnya yaitu berharap mendapatkan keuntungan. Karena lingkup perusahaan asuransi adalah merupakan pelimpahan resiko, tentunya mereka punya perhitungan agar perusahaan tidak rugi.

Oleh karena itu dibutuhkan proses seleksi. Sekalipun sepertinya masyarakat enggan memiliki asuransi, dan sepertinya harus ‘dipaksa’ dalam proses membelinya.

Pada kenyataannya tidak setiap orang bisa diterima menjadi tertanggung. Proses seleksinya meliputi seleksi fisik dan seleksi finansial. Seleksi fisik artinya bila seorang mempunya kelainan atau penyakit yang sudah ada, maka Underwriting berhak menolak orang tersebut menjadi nasabah.

Kerjaan underwriter ini mirip dengan kerjaan analis kredit di bank. Tugas analis kredit adalah menyeleksi semua pengajuan kredit yang masuk. Jadi semua pengajuan kredit yang disubmit oleh marketing bank, tidak semuanya akan diproses. Analis kredit akan menyortir dan memilah mana calon debitur (orang yang mau meminjam uang) yang baik dan mana calon debitur yang jelek.

Calon debitur yang baik biasanya pengajuan kreditnya akan di setujui sedangkan calon debitur yang jelek akan ditolak karena pernah ada riwayat hutang yang tidak bagus misalnya pernah menunggak di tempat lain dan sebagai nya.

Saya sering ditanya, apabila ada calon nasabah yang telah mempunyai riwayat kesehatan jantung koroner, apakah bisa diterima menjadi nasabah? Orangnya masih muda dan tidak menunjukkan fisik yang lemah, dan masih bekerja seperti pada umumnya orang yang sehat.

Sekarang coba pertanyaan nya dibalik. Andaikata Anda menjadi pemilik perusahaan asuransi, maukah Anda menerima orang yang sudah sakit  atau memilik data medis yang jelek untuk menjadi tertanggung di perusahaan asuransi Anda? Sebagai pemilik perusahaan asuransi tentunya mereka lebih memilih orang yang sehat dan jauh dari resiko meninggal. Karena masih banyak orang sehat yang belum punya asuransi.

Tentunya mereka berharap tidak membayar klaim pada waktu yang terlalu dini/terlalu cepat. Pemilik perusahaan asuransi pasti tidak bisa menyeleksi sendiri seluruh pengajuan asuransi yang masuk makanya dia mewakilkan proses seleksinya kepada underwriting.

Bahkan ada beberapa agen asuransi di perusahaan asuransi tertentu yang di kartu nama nya tertulis jabatannya sebagai Field Underwriter (underwriter lapangan), bukan financial consultant atau insurance agent seperti pada umumnya.

Dengan jabatan Field Underwriter, setiap agen diajar untuk menjadi underwriter di lapangan. Mereka ditraining untuk mewakili perusahaan untuk menyeleksi pada tahap awal.

Karena bila Anda mengetahui sejak awal bahwa prospek bermasalah dalam medis, misalnya sudah memiliki riwayat penyakit berat tertentu, maka Anda biasanya akan mundur teratur. Karena Anda tahu percuma case tersebut diteruskan, ujung ujungnya akan mengalami penolakan oleh underwriter.

Namun memang dengan berkembangnya kemajuan teknologi kesehatan, saat ini banyak penyakit yang juga telah mendapat penilaian toleransi dalam proses seleksi. Sehingga dalam menentukan sikap, underwriting mempunyai banyak tahapan.

Tahukah Anda apa yang terjadi bila Underwriting perusahaan tidak bekerja maksimal? Rasio klaim akan tinggi, sehingga potensi kerugian perusahaan  asuransi akan tinggi pula. Jelas pemilik perusahaan tidak menyukai hal ini.

Namun bila Underwriting bekerja dengan sangat selektif, apa yang terjadi? Kemungkinan perolehan premi akan menurun, dan kinerja para agen akan turun juga. Apakah pemilik perusahaan suka dengan hal ini? Pasti juga tidak.

Jadi pada dasarnya Underwriting bukan penghambat atas pengajuan asuransi yang masuk. Namum mereka menjaga agar tetap terjadi keseimbangan antara polis asuransi yang diajukan dan rasio klaim.

Mereka tidak akan serta merta menolak setiap case yang tidak standar dari sisi medis. Mereka tetap berpikir tentang bagaimana caranya agar polis asuransi tetap bisa disetujui namun cukup aman dalam perhitungan underwriting.

Kadang mereka harus meminta medis tambahan, agar memperoleh hasil yang mendukung keputusannya untuk menerima nasabah. Kondisi ini kadang dalam pikiran agen mempersulit calon nasabah. Dengan tambahan medis yang lebih detil dan bagus akan mempermudah underwriting memperoleh perusahaan re-asuransi.

Karena setiap perusahaan asuransi mempunyai kebijaksanaan masing masing mengenai berapa besar uang pertanggungan tertentu yang harus di re-asuransikan ke perusahaan asuransi untuk membagi resiko klaim.

Setelah mendapatkan data dengan jelas, underwriting bisa mengambil keputusan selain standar. Underwriting juga bisa menunda dalam jangka waktu tertentu. Misalnya enam bulan ke depan. Tujuannya agar nasabah bisa melakukan perawatan dan pengobatan dari dokter ahli atau spesialis.

Atau juga bisa memutuskan menerima dengan tambahan extra premi. Artinya premi yang dibayar lebih mahal daripada premi standar yang dibayar oleh mereka yang mempunyai kesehatan standar. Keputusan ini dengan perhitungan bahwa Tertanggung mempunyai rasio klaim lebih besar dibanding nasabah yang standar.

Atau juga memutuskan dengan Lind Clause, yang mengandung perkecualian klaim.

Dan keputusan yang terberat adalah menolak, dan premi calon nasabah dikembalikan utuh. Keputusan ini diambil bila secara perhitungan underwriting sudah jalan buntu. Tidak ada re-asuransi yang mau menerima. Dalam kondisi seperti ini, calon nasabah juga akan kesulitan untuk masuk sebagai peserta asuransi di perusahaan asuransi yang lain.

Selain urusan medis, underwriting juga meminta keabsahan dokumen. Karena polis bersifat perjanjian ke dua belah pihak yaitu antara Perusahaan dan Pemegang Polis dan bersifat jangka panjang. Keabsahan diperlukan untuk pengurusan klaim nantinya.

Jangan sampai ahli waris atau penerima manfaat kesulitan melakukan klaim karena dokumen yang dianggap tidak sah. Oleh karena itu, Anda sebagai agen harus memastikan kalau seluruh dokumen sudah disiapkan dan diantisipasi sejak awal bila terjadi kekurangan persyaratan dokumen.

Dengan mengerti administrasi, ini akan akan memudahkan proses pengajuan polis asuransi. Ketidak mengertian adminisrasi akan menyebabkan keterlambatan dan permintaan yang tidak sekali jalan kepada nasabah. Sehingga Anda sebagai agen menjadi terkesan tidak profesional dan ruwet.

Dengan mengerti tugas Underwriting, tentunya kita bisa berpikir dan bertindak yang memudahkan mereka mengambil keputusan terbaik. Underwriting bukanlah musuh agen. Mereka justru bertugas memberi dukungan agen, sehingga proses pengajuan polis asuransi menjadi lancar dengan dokumen yang lengkap, dan memperlancar pada saat proses klaim.

Maka saat Anda menjadi mitra/agen asuransi Allianz, berpikirlah seolah Anda berada di posisi Underwriting, maka segalanya akan menjadi mudah. Jadikan mereka teman dalam bisnis asuransi Allianz ini.

daftar menjadi agen asuransi allianz