Modal untuk Berbisnis Asuransi Jiwa Allianz

Dalam setiap kesempatan dalam mengajak teman atau orang lain¬† untuk berbisnis di industri asuransi jiwa Allianz, sering kali saya menemukan mereka menggunakan kata “tanpa modal”.

Padahal untuk mendaftar menjadi seorang Agen asuransi jiwa, Anda memiliki merupakan keharusan untuk mengikuti ujian AAJI dan ini perlu dibayar oleh calon mitra/agen baru. Uang ini bukan dibayarkan ke perusahaan asuransinya. Namun dibayarkan ke AAJI (Asosiasi Agen Asuransi Jiwa Indonesia).

Jadi tetap harus keluar modal dong.

Hal ini membuat banyak calon mitra/agen yang merasa terjebak. Mereka beranggapan yang dinamakan tanpa modal berarti benar benar tidak mengeluarkan uang sepeserpun juga.

Bahkan mungkin berangkat kerjapun diantar jemput sehingga tidak keluar biaya transport. Ya ampun, kok manja banget sih. Ini mau bisnis atau mau ngapain? Pemahaman ini yang perlu diluruskan. Sehingga masing masing tidak salah persepsi, apalagi salah paham.

Sebenarnya salah juga jika mengatakan bisnis ini tanpa modal. Uang ujian AAJI meskipun jumlahnya tidak seberapa namun tetap bisa diperhitungkan layaknya sebuah modal juga. Kecuali jika dalam pemikiran awam, profesi agen asuransi jiwa dianggap seperti mencari pekerjaan. Tentunya akan menjadi hal yang aneh, mencari kerja kok malah si pencari kerja nya harus membayar sejumlah uang tertentu.

Tetapi yang ditawarkan di sini bukanlah pekerjaan (job) namun sebuah bisnis, yang sifatnya wirausaha. Jadi tidak salah ya jika untuk membuka sebuah bisnis maka Anda membutuhkan sejumlah modal untuk memulai nya. Karena pemahaman ini akan sangat berbeda bila dalam pemikiran mereka, ini adalah mencari pekerjaan.

Bila pemikirannya bisnis asuransi Allianz ini adalah membangun bisnis yang mempunyai potensi hasil puluhan atau ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah per bulan, tentunya tidak mengherankan jika Anda membutuhkan sejumlah modal tertentu pada saat memulai nya bukan?

Saya pernah mendengar cerita dari teman yang mempunyai kerabat yang membuka bisnis makanan warung tenda kaki lima. Dia mendapat tempat sewa di lokasi yang cukup strategis. Dia mengeluarkan modal sekitar 30 juta, yang setengahnya diperoleh dari pinjaman keluarga.

Modal tersebut dipergunakan untuk membuat konstruksi pipa yang bisa dibongkar pasang. Dan meja kursi yang dibeli juga barang bekas.

Ketika sebulan awal, bisnis warung makannya tidak memberi hasil seperti yang diharapkan. Padahal menurut perhitungannya, dengan menu yang dimiliki serta harga yang kompetitif akan bisa meraih keuntungan dalam waktu singkat.

Menurut Anda, apakah yang harus dilakukan dengan situasi dan kondisi seperti ini ?

Apakah mendingan ditutup saja, daripada semakin lama akan semakin rugi yang lebih dalam. Mengingat bisnis makanan persaingannya sangat sengit. Atau mencari ide ide kreatif agar warung tenda nya bisa ramai dan menarik pengunjung? Toh masih baru buka 1 bulan.

Karena dengan mengambil keputusan menutup warung, maka sudah dipastikan modal tidak akan kembali. Malah masih punya kewajiban mengembalikan hutang pinjaman dari keluarga.

Pemilik warung akan berjuang, mencari cara cara baru, mungkin kalau terpaksa harus mengganti menu yang ada, yang mungkin bisa lebih digemari. Atau harus mencari bentuk iklan lain sehingga orang orang dapat lebih mengenal warung mereka.

Intinya MEREKA TERUS BERJUANG !! Karena mereka tidak mau konyol kehilangan modal yang cukup berarti dalam kurun waktu yang singkat. Lain cerita bila kondisi berlanjut hingga 6 bulan ke depan. Kalaupun mereka harus menutup, mereka akan lebih legowo karena sudah berjuang sampai akhir.

Berkaca dengan kejadian di atas, mengapa banyak Agen asuransi jiwa yang ‘muntaber‘ – mundur tanpa berita – bila belum mendapat hasil komisi 1 bulan lewat? Atau ‘hipertensi‘ – hilang pergi tanpa permisi, bila dirasa belum ada tanda tanda keberhasilan dalam bulan pertama?

Jawabannya, karena mereka tidak mengeluarkan modal sama sekali.

Mereka hanya mengeluarkan biaya ujian AAJI yang tidak seberapa. Kare a tidak ada kerugian yang patut diperjuangkan jadi mereka lebih mudah meninggalkan bisnis asuransi ini.

Mereka rela uang ujian AAJI itu hilang begitu saja. Mereka tidak mau berpikir untuk mencari cara lain bagaimana agar bisnis nya jalan. Mereka tidak berusaha belajar dari orang orang yang sudah lebih dahulu sukses di bisnis ini. Mereka dengan gampangnya menyerah.

Oleh karena itu, khusus di sini, untuk bergabung di grup ini, Anda harus membayar sejumlah modal dengan nomibal tertentu (bukan hanya uang untuk ikut ujian AAJI saja) yang nantinya akan dipergunakan untuk mendukung bisnis Anda sendiri. Jumlahnya tidak besar kok. Malah jumlah nominal nya masih jauh di bawah jika dibandingkan dengan Anda membuka bisnis konvensional lainnya.

Dengan demikian Anda akan lebih bertanggung jawab dengan pilihan Anda dan tidak akan mudah menyerah. Anda tidak mau kan dengan gampangnya kehilangan “modal awal” Anda begitu saja. Anda akan lebih berjuang. karena bila Anda sudah mengambil keputusan untuk bergabung, pasti Anda¬† sudah melihat potensi penghasilannya dan mengukur kemampuan diri Anda sendiri.

Akibatnya Anda tidak menjalankan bisnis asuransi Allianz ini dengan setengah hati atau meninggalkan bisnis asuransi Allianz ini tanpa perjuangan yang berarti.

Oleh karena itulah maka merupakan sebuah ‘kebodohan’ dari teman seprofesi bila membayarkan biaya ujian AAJI ke calon mitra/agen baru, sekalipun dengan dalih apapun. Karena membayarkan sebenarnya bukan berarti kita melakukan tindakan kasih, namun akibatnya malah membuat mitra/agen baru tersebut tidak melakukan tanggung jawabnya.

Saya sering membiarkan seseorang yang tertarik terhadap bisnis ini, dan mengaku tidak punya uang untuk bergabung dengan modal dia sendiri, bagaimana pun cara dia untuk mencari modal tersebut. Bukan karena saya pelit atau kejam. Namun saya biarkan bara api dalam dirinya berkobar. Dengan bara api itu dia akan mencari jalan untuk memperoleh modal tersebut.

Banyak situasi mereka harus meminjam kepada keluarga, atau temannya. Dan ketika mereka memutuskan hal itu, mereka akan berjuang, belajar dan akhirnya berhasil.

Sebaliknya ketika sepertinya kita baik hati membayarkan uang ujian AAJI itu, kebanyakan atau hampir semua tidak berjuang untuk berhasil. Mereka justru kadang berpikir, kita membayarkan uang ujian AAJI tersebut karena kita berharap memperoleh keuntungan dari hasil kerja mereka.

Sekali lagi, ini bukan sebuah doktrin, namun berbagi pengalaman. Karena bagaimanapun maksud baik membayarkan adalah kepekaan kita akan suara hati yang dasarnya membantu orang lain. Bagaimana menurut pendapat Anda?

daftar menjadi agen asuransi allianz