Jenjang Karir Agen Asuransi Allianz

Suatu saat secara tak terduga saya bertemu dengan teman lama yang seingat saya sudah lebih dari 5 tahun bekerja di sebuah perusahaan asuransi sebagai mitra/agen.

Dan yang saya tahu, setiap tahun dia selalu mendapat penghargaan trip ke luar negeri, bahkan hampir selalu mendapatkan 2 tiket, sehingga dia selalu mengajak suaminya untuk menikmati bonus yang diterimanya.

Dalam perbincangan itu akhirnya masuk dalam topik seputar bisnisnya. Saya cukup terkejut, ketika ternyata dia masih di posisi sebagai agen (FC), jenjang paling dasar dalam struktur karier. Ketika saya tanya, kenapa dengan omzet yang bagus, harusnya dia saat ini menjadi Agency Manager, jenjang di atas FC.

Struktur karier di perusahaan asuransi tersebut ada 4 level, dari FC (Financial Counsellor) – AM (Agency Manager) – SAM (Senior Agency Manager) – AD (Agency Director).

Yang menarik ketika dia menjawab, “wah, aku ga pingin jadi AM, susah rekrut dan ngatur orang. Enak begini aja, aku jual sendiri. Karena gak gampang jadi AM, harus bantuin agennya, belum lagi kalau agennya susah diatur…”

Di saat yang lain, ketika di suatu kesempatan saya berjumpa seorang AM (Agency Manager), yang saya tahu juga telah lebih dari 5 tahun di posisi yang sama. Dan saya tahu juga, premi collected dari teamnya lebih dari 1 M per tahun. Demikian juga setiap tahun selalu meraih trip ke luar negri bersama pasangannya.

Saya mengajukan pertanyaan yang serupa, kalau dari sisi pencapaian premi yang diisyaratkan, harusnya memenuhi syarat untuk promosi menjadi SAM (Senior Agency Manager), mengapa tidak naik jenjang?

“Di sini, posisi AM adalah posisi yang paling strategis dari overiding, buat apa saya harus jadi SAM, yang selisihnya gak banyak. Menjadi AM lebih enak, kalau agennya susah diatur, ya saya jual sendiri, toh overidingnya cukup besar….capek ah jadi SAM…”

Rasa penasaran saya semakin bertumpuk. Maka ketika ada kesempatan, bisa jumpa salah satu SAM terbaik, dan sudah lebih dari 5 tahun juga di posisi yang sama. Setelah berbincang santai, maka pertanyaan yang sejenis saya ajukan.

Kenapa dengan pencapaian setiap tahun yang harusnya bisa promosi menjadi AD, tapi tidak mengajukan promosi ?

“Selisih overiding SAM dan AD tidak beda jauh. Dan kerepotan mengurus admistrasi di kantor pusat sangatlah ribet. Mending saya di SAM aja, dan AD saya yang mengurus hal hal itu. Dan tanggung jawab sebagai AD kan berat, harus mempertanggung jawabkan target.”

Ternyata yang sangat membuat saya terheran heran adalah dari FC, AM, dan SAM mempunyai alasan yang hampir sama untuk tidak naik jenjang. Yang jadi pertanyaan saya, dari manakah pola tersebut ada dalam pikiran mereka? Siapa yang memasukkan pola pemikiran seperti itu?

Ibarat seorang anak remaja yang takut ketika berada di kegelapan. Anak remaja tersebut selalu membayangkan hantu, atau hal hal negatif lainnya. Tentunya hal ini selalu ada yang memprogram sistem pola pemikirannya.

Bisa jadi orang tua anak tersebut, yang saat masa kecilnya dengan sengaja atau tidak sengaja telah menakuti si anak dengan cerita hantu dengan maksud agar anak tersebut menjauh dari tempat yang gelap. Namun tanpa disadari cerita negatif tersebut tertancap dalam pikiran bawah sadarnya dan terbawa hingga dewasa.

Demikian juga situasi yang terjadi dalam karier bisnis asuransi jiwa. Banyak kata kata atau kalimat yang sepertinya memberi gambaran situasi yang menyulitkan ketika seseong naik jenjang. Berbagai problem dan masalah sepertinya menjadi hambatan dan membuat ketakutan bagi orang yang ingin naik jenjang.

Sehingga dari level atas menahan laju level di bawahnya. Demikian seterusnya sehingga gerbong promosi menjadi seakan tidak bergerak. Seseorang bisa di level FC dalam kurun waktu yang lama. Demikian juga level menengah tidak berambisi untuk naik ke jenjang berikutnya.

SIAPA YANG SELAMA INI MEMASUKKAN PEMIKIRAN TERSEBUT KE MASING MASING LEVEL?

Situasi ini bisa terjadi karena sistem dalam perusahaan asuransi tersebut memang tidak mendukung adanya promosi. Kenapa demikian? Bila seorang AD melahirkan atau mempromosikan SAM nya menjadi AD, maka dia berhak atas bonus promosi dari omset AD yang dipromosikan. Tapi sejauh mana hal tersebut bisa memberi jaminan income terhadap kelangsungan bisnisnya.

Karena AD tersebut, ketika SAM nya promosi, maka seluruh team SAM itu dibawa menjadi team AD baru. Berarti AD yang lama harus membangun, merekrut, membina team baru lagi. Begitu seterusnya.

Bahkan usia AD  yang lama tersebut tentunya sudah tidak muda lagi. SI AD lama sampai tua renta tetap harus mempertahankan posisi untuk tetap aman, agar tidak didemosi akibat tidak tercapainya target.

Sistem seperti inilah yang membuat, secara sadar atau tidak sadar seorang leader dalam alam bawah sadarnya, tidak menginginkan team di bawahnya promosi ke jenjang yang sama dengan dirinya. Dan situasi ini berlanjut dari generasi ke generasi.

Namun apabila suatu saat pada akhirnya SAM tersebut promosi menjadi AD baru, oleh karena kesadaran sendiri, atau atas dukungan perusahaan asuransi yang menginginkan pertumbuhan AD baru. Maka akan tercipta suasana yang tidak harmonis, antara AD LAMA dan AD BARU. AD BARU tentu saja membawa teamnya. Dan di situasi ini AD LAMA akan kehilangan teamnya.

AD LAMA berpikir bahwa SAM nya tidak loyal, dan lupa kacang akan kulitnya serta lupa akan jasanya yang telah mendidiknya sejak dari awal. Sedangkan AD BARU berpikir, apakah seumur hidup harus bergabung dengan AD lamanya. Sudah saatnya dia berpikir untuk mandiri.

Dengan adanya pola berpikir yang berbeda, tentunya menimbulkan suasana yang pasti tidak harmonis. Yang ujung ujungnya nya bisa saling bermusuhan.

Siapa yang salah dalam hal ini ? Mereka tidak ada yang salah, namum sistemlah yang memaksa mereka yang bertindak dan berpikir seperti itu.
APAKAH KITA SEMUA TETAP MAU BERADA DI SISTEM YANG SALAH? Kalau Anda cinta dengan profesi Anda, cobalah membuka cakrawala mata dan pikiran, untuk merenungkan hal ini semua.

Di Allianz, Anda tidak akan menemukan sistem bisnis seperti ini. Jenjang karir Agen Asuransi Allianz adalah yang Paling Simpel di antara semua perusahaan asuransi yang ada di Indonesia. Hanya ada 2 jenjang yaitu Business Executive (BE) dan Business Partner (BP).

Saat Seorang BP berhasil mempromosikan BE nya menjadi BP yang akhirnya selevel dengannya, BP lama akan mendapatkan bonus royalti dari total omset yang dihasilkan oleh BP baru nya. Dan bonus royalti ini bisa dinikmati sampai 5 generasi kedalaman BP.

Sehingga kalau di bisnis Allianz, tidak ada alasan seorang BP untuk menghambat BE nya untuk promosi dan juga tidak ada alasan bagi seorang BE untuk tidak mau cepat cepat promosi menjadi BP.

Dengan menjadi BP maka dia akan menerima tambahan komisi overriding yang berasal dari penjualan pribadi yang dia lakukan sendiri maupun penjualan yang dilakukan oleh BE BE di bawah nya.

daftar menjadi agen asuransi allianz