Cara Membangun Trust dalam Sekejap

Bagi yang orangnya pendiam  biasanya akan merasa sulit untuk pendekatan ke orang baru. Follow-up teman sendiri ada susah banget rasanya, apalagi ngobrol dan follow-up orang baru. Pernah nggak sih Anda ngalamin seperti ini?

Anda sudah ketemu orang baru (prospek), kemudian Anda pasang muka ramah, Anda ceritain ini itu, bahkan sampai traktir dia minum dan makan di Starbucks. Sampai situasinya jadi enak banget buat kalian ngobrol, seperti teman akrab yang udah lama nggak ketemu.

Terus endingnya Anda nawarin peluang bisnis atau produk Asuransi yang Anda geluti. Dan tiba-tiba respon prospek Anda jadi berubah 180 derajat. Dia langsung nolak, dan kemudian kelihatan bete banget. Terus keesokan harinya Anda follow-up dia lagi, dan dia-nya ngga bales WhatsApp atau Chattingan Anda.

Miris banget nggak sih ?

Di artikel ini saya mau bahas apa yang salah dan apa yang seharusnya dilakukan untuk membangun kepercayaan dalam waktu super singkat. Sebetulnya dari cerita diatas dapat dipetik kesimpulan bahwa apa yang kita lakukan, sebaik apa kita terhadap calon prospek kita, nggak akan mempengaruhi keputusannya.

Anda sudah repot-repot bermacet-macet ria di jalan, kemudian rela traktir di restoran atau kafe, dan juga memberikan waktu Anda berjam-jam untuk ngobrol dan pendekatan, namun yang didapat hanya penolakan.

Sakitnya tuh disini loh.. ? Kenapa sih bisa begitu? Sebetulnya jawabannya hanya satu “Belum ada trust diantara kalian berdua.” Semakin Anda dipercaya oleh orang lain, maka orang lain tak segan-segan mempercayakan hal-hal lain, termasuk keputusannya sendiri.

Coba bila Anda sudah mendapatkan trust dari prospek Anda, kemudian nggak perlu basa basi lagi, langsung aja tawarin peluang bisnis Asuransi Anda, atau produk-produknya, dijamin deh dia gak akan berpikir negatif terhadap Anda.

Paling-paling cuma perlu menunggu beberapa hari untuk berikan keputusan. Dan bila memang bisnis Anda atau produk-produknya cocok dengan keinginannya, maka dijamin dia akan langsung mengiyakan tawaran Anda.

Terus gimana dong cara membangun trust? Bukankah membangun trust itu perlu waktu yang lama? Ya, betul sekali. Trust memang tidak dapat dibangun dalam waktu singkat. Namun ada yang saya sebut dengan quick trust, yaitu pandangan orang terhadapmu pada saat itu juga. Dan kabar baiknya, quick trust ini bisa dibangun dalam waktu singkat loh.

Kesamaan

Cara pertama untuk membangun quick trust adalah kesamaan. Misal Anda orang asli Solo, jadi memang logatnya masih agak-agak medok. Trus saat ini Anda tinggal di Jakarta. Meskipun dituntut untuk bisa bahasa gue eloh begituh, tapi tetap saja logat-logat jawanya pasti muncul.

Nah, sering banget ketika naik taxi online kemudian drivernya orang jawa, Anda dan drivernya tuh jadi langsung akrab banget. Seperti langsung terbentuk trust gituu. Dia kasih rekomen tempat-tempat bagus di sana sini, dan Anda pun nurut saja, karena merasa ada kesamaan, yaitu sama-sama orang jawa dengan logat medok.

Contoh lain misalnya Anda suka banget ngegym, dan bila ketemu orang baru yang sama-sama suka ngegym, rasanya tuh ada bonding saat itu juga. Karena lagi-lagi ada kesamaan. Sama-sama punya hobi yang sama, dan suka gaya hidup sehat. Hal ini yang bisa Anda manfaatkan untuk membangun quick trust, yaitu dengan mencari kesamaan.

Contoh lain. Bila Anda menawarkan produk penurun berat badan misalnya. Anda bisa menceritakan apa yang Anda percayai, seakan-akan Anda benar-benar mengalaminya. Istilahnya menaruh empati pada prospek Anda. Maka Anda bicara seperti ini :

Yah, Anda tau sendiri lah kita ingin badan yang six pack tapi gak pengen olahraga keras.

Yah, Anda tau sendiri lah kita seperti punya alergi kalau disuruh olahraga.

Kerasa ngga?

Ketika Anda ngomong seperti itu, prospek akan merasa, “iya betul betul betul, saya juga merasakan hal yang sama.” Istilahnya kita membuat prospek mengangguk-angguk dalam pikiran mereka. Dan ini sangat ampuh loh. Oh iya, tapi jangan terlalu banyak ngomong ya.. Lebih baik “lebih banyak dengerin” prospek Anda dulu.

Tujuannya adalah supaya Anda dapat data lebih tentang prospek Anda, baru setelah itu Anda bisa cerita tentang kesamaan Anda dengannya. Selain cari kesamaan, Anda juga harus lihat seperti apa prospek Anda.

Misalkan prospek Anda adalah tipe yang berbicara lambat, maka Anda juga harus sesuaikan cara Anda berbicara. Demikian sebaliknya. Istilah psikologisnya “Mirroring”, Anda menyesuaikan diri dengan kondisi prospek Anda.

Berikan Fakta

Fakta itu hal yang mendasari keputusan seseorang. Sebetulnya, kita ini memutuskan sesuatu dengan menggunakan emosi kita, namun didukung oleh data-data riil, seperti fakta-fakta. Fakta yang memang dialami oleh banyak orang bisa memberikan kita keyakinan untuk memutuskan sesuatu.

Menceritakan fakta adalah salah satu senjata ampuh untuk membangun quick trust, kata kuncinya disini adalah “Kebanyakan orang”.

Mengapa?

Karena prospek akan merasa banyak orang yang sepenanggungan yang mengalami hal yang sama dan ingin solusi yang sama. Ini seperti prospek mendapatkan afirmasi dari orang lain melalui cerita kita.

Contoh nya seperti ini :

Kebanyakan orang tidak punya waktu untuk olahraga.. bla bla bla..

Kebanyakan nggak punya waktu untuk diet.. bla bla bla..

Kebanyakan orang nggak suka bila merasa lapar.. bla bla bla..

Kebanyakan orang diet nggak pernah berhasil.. bla bla bla..

Sekarang mari kita gabungkan.

Dengan memposisikan diri kita seperti mengalami hal yang sama yang dialami prospek kita, istilahnya mencari kesamaan, maka hal itu akan secara otomatis membangun trust. Apalagi bila kemudian disambung dengan fakta-fakta yang memang dialami oleh kebanyakan orang. Itu akan membuat kekuatan trust jadi double.

Oke, sekarang coba kita gabungkan kedua kalimat tersebut menjadi satu kalimat ajaib yang dapat membuat kita dapat membangun trust dengan cepat.

Yah Anda tahu sendiri lah kita ingin punya perut six pack tapi gak mau olahraga, kebanyakan orang gak punya waktu untuk olahraga karena sibuk banget sehari-harinya, yah tahu sendiri Jakarta seperti apa dan semacet apa. Dan saya yakin semua orang ingin punya minuman magic yang hanya minum saja langsung six pack.

Senyum

Cara terakhir untuk membangun quick trust adalah “Senyum”. Ini yang mungkin paling gampang kita lakukan, tapi ampuh banget. Coba saja kalau gak percaya, ketemu orang baru kemudian senyum saja, otomatis orang tersebut akan merasa disambut dengan ramah, dan trust secara otomatis akan terbangun.

Jadi mulai sekarang perbanyak senyum dengan orang lain ya, tapi ingat! Jangan senyum-senyum sendiri. Nanti malah disangka gak waras.

Jadi kesimpulannya trust itu bisa dibangun dalam waktu singkat, yang disebut quick trust, yaitu kesan pertama ketika kita bertemu dengan orang. Dan cara membangunnya dapat menggunakan kata-kata, yaitu dengan mencari kesamaan, kemudian menambahkan fakta-fakta, dan yang terakhir tersenyumlah.

Introvert Juga Bisa Menjalankan Bisnis Asuransi Allianz

Apakah seorang introvert bisa sukses di bisnis asuransi Allianz? By the way, saya juga seorang introvert. And don’t worry, Anda nggak sendirian, karena sepertiga dari penduduk dunia adalah introvert. Ketika pertama kali bergabung di bisnis asuransi, saya selalu menghindari telepon yang masuk ke HP saya, karena saya tidak mau menerima telepon follow up dari sponsor saya. ?

Mendingan SMS atau chat saja daripada harus ngobrol, karena bakal sangat awkward rasanya. Tapi tahukah Anda bahwa kebanyakan orang yang sukses di bisnis Asuransi adalah orang-orang ekstrovert, yang gampang bergaul dan ngobrol dengan orang lain, bahkan orang yang baru dikenal.

Saya ngga nakut-nakutin Anda loh ya. Tapi itulah faktanya. Bahkan ada yang mengatakan seperti ini, “Untuk dapat 4 mitra/agen dalam sebulan itu gampang kok. Biasanya orang yang gampang bergaul dan pinter ngomong itu bisa dapetin mitra/agen dengan cepat.”

Mungkin yang ada dalam pikiran Anda saat ini adalah bisnis Asuransi seperti bisnis asuransi Allianz bisa saja nggak cocok buat Anda yang introvert kali ya. Tetapi jangan patah semangat dulu. Ada fakta lain yang belum saya ungkapka, yaitu bahwa ternyata introvert itu bisa sukses di bisnis Asuransi kok. Tergantung bagaimana tiap individu dalam menghadapi situasinya.

Saya sendiri adalah seorang introvert. Bertemu dan ngobrol dengan orang yang sudah kenal aja rasanya agak awkward, apalagi untuk networking.

Weekend? Mending di rumah baca buku sambil browsing, daripada keluar dan ngeblend di keramaian. Tapi itu semua nggak menjadi halangan bagi saya untuk terus mengembangkan bisnis asuransi Allianz yang saya geluti, dan networking. Introvert bukanlah alasan untuk gagal.

Sebetulnya ada dua tahapan dalam networking, yang pertama, bertemu dengan orang lain dan berbagi informasi tentang diri Anda sendiri. Dan bicara soal tahap pertama ini, ekstrovertlah yang bakal menang. Mereka sangat lihai untuk memulai koneksi dengan orang lain.

Mereka bisa ngobrolin banyak hal dan berasa seperti teman lama, meskipun baru saja kenalan. Tapi ekstrovert cenderung suka ngobrolin tentang dirinya sendiri. Sedangkan seorang introvert bakal menang di tahapan kedua, yaitu mendengarkan dan mengumpulkan informasi. Meskipun introvert jarang ngomong, tapi mereka adalah pendengar yang baik.

Mereka mendengarkan dan mengumpulkan informasi, kemudian baru berbicara bila informasi sudah cukup terkumpul. Lalu, mana yang paling cocok untuk menjalankan bisnis Asuransi Allianz ?

Good networker adalah mereka yang memiliki dua telinga untuk mendengar, satu mulut untuk berbicara, dan mereka menggunakan keduanya secara proporsional. Artinya, mereka harus mendengarkan apa yang jadi permasalahan orang lain, kemudian memberikan solusinya, dan sebetulnya sifat ini paling banyak didapati pada orang dengan tipe karakter introvert.

Jadi sekali lagi saya tekankan bahwa karakter introvert jangan dijadikan alasan untuk nggak sukses di bisnis asuransi ini. Lagipula, bisnis Asuransi seperti bisnis asuransi Allianz ini tidak memandang status apapun kok, mau kaya, miskin, besar, kecil, pengusaha, pedagang, orang kantoran, introvert, ekstrovert, semua bisa memulai bisnis ini tanpa syarat.

Banyak juga leader-leader di bisnis asuransi yang ternyata seorang introvert. Mereka terlahir, dibesarkan dan akhirnya terbentuk karakter introvert. Tapi itu nggak menghalangi kemauan mereka untuk sukses, dan mereka yakin, untuk sukses mereka harus keluar dari zona nyaman mereka.

Dan memang benar, mereka akhirnya keluar dari zona nyaman, memaksa diri untuk terus menjalin hubungan dengan banyak orang, mengikuti training-training, meningkatkan kepercayaan diri, berlatih berbicara di depan banyak orang, dan lain sebagainya.

Intinya mereka ini menempa dirinya sendiri, dan akhirnya gak bisa dipungkiri bahwa mereka dapat meraih kesuksesan. Mungkin Anda merasa ngga nyaman ketika menjalani proses mengembangkan bisnis Asuransi ini, seperti memprospek orang, follow up, presentasi, dan lain sebagainya.

Tapi gak ada salahnya untuk melakukan itu semua, karena perlahan-lahan, hal tersebut akan membentuk karakter Anda menjadi lebih baik lagi. Namun, bagi saya, prioritas dalam mengembangkan bisnis ini adalah dengan fokus mengerjakan apa yang saya bisa dan suka. Masing-masing orang punya kelebihan dan kekurangan, dan juga punya passion yang berbeda-beda.

Jadi mulai sekarang Anda harus berpikir kreatif, menggunakan apa yang ada pada diri Anda untuk mengembangkan bisnis asuransi Allianz ini. Bagi Anda yang introvert, Anda harus melakukan hal demikian, yaitu fokus pada kelebihan Anda dulu, dan mencoba mengembangkan bisnis ini sekuat tenaga.

Bila Anda masih merasa nggak nyaman untuk ngobrol langsung dengan orang lain, membangun koneksi dengan orang baru, dan lain sebagainya, maka mau gak mau Anda harus mencari cara lain untuk melakukannya.

Bisnis Asuransi Allianz adalah bisnis yang berlandaskan hubungan. Oleh karena itu bisnis ini harus dibangun dengan “networking”. Bisnis ini tidak melulu masalah mengumpulkan prospek, kemudian menyusun jaringan distribusi, namun lebih ke arah membangun relationship dengan orang lain terlebih dahulu.

Jadi di bisnis ASURANSI, relationship itu sangat penting. Lalu apakah mau nggak mau kita harus secara langsung berkenalan dengan orang lain, ngobrol, dan lain sebagainya? Bagaimana bila kita merasa ngga nyaman melakukan itu semua?

Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, nggak ada salahnya mencoba, karena itu baik juga buat karakter kita. Namun sebetulnya hal tersebut bisa diakali dengan cara lain, yaitu dengan memanfaatkan teknologi dan internet.

Bisnis apapun akan terus berevolusi termasuk bisnis asuransi Allianz. Apalagi bila Anda lihat sekarang ini, banyak bisnis konvensional yang sudah beralih ke bisnis online. Sekarang coba saja Anda pergi ke pasar  tanah abang di Jakarta. Toko-toko disana mulai sepi, namun  sebetulnya pembelian tetap berjalan, bahkan jauh lebih ramai dari sebelumnya, namun melalui internet atau online.

Bisnis-bisnis yang nggak melek teknologi, dan nggak mau beradaptasi lama-kelamaan akan gulung tikar sendiri. Demikian juga sama halnya dengan bisnis Asuransi Allianz. Cara Anda memasarkan, dan mengembangkan bisnis ini juga harus berevolusi. Gunakan teknologi yang ada, gunakan internet yang sudah semakin cepat.

Bila Anda nggak nyaman berkenalan langsung dengan orang lain, maka gunakan sosial media seperti Facebook, Instagram, dan lain sebagainya. Bila Anda nggak nyaman berbicara langsung, maka gunakan fasilitas chat, seperti Facebook messenger, Telegram , atau WhatsApp. Masih banyak lagi yang bisa Anda lakukan dengan memanfaatkan teknologi dan internet.

So, be creative!

Bisnis Asuransi Allianz nggak ada batasannya, semua orang bisa menjalankannya. Meskipun Anda seorang introvert yang cenderung sulit untuk berhubungan dengan orang lain, namun  Anda pasti bisa sukses di bisnis ini.

Semua tergantung Anda! Bila Anda memang merasa tidak nyaman untuk membangun hubungan secara langsung dengan orang lain, maka jadilah kreatif, gunakan apa yang ada pada diri Anda sekarang. Anda bisa memanfaatkan internet, seperti membuat blog sendiri, kemudian memanfaatkan sosial media, seperti facebook, instagram, dan lain sebagainya untuk membangun bisnis ini.

Jadi jangan pernah kehabisan ide dan kreatifitas. Kalau orang lain bisa, Anda pasti juga bisa!

Bisnis Asuransi Allianz. Modal Kecil, Income Besar

Mau usaha modal kecil untung besar? Sebetulnya ada beberapa usaha yang bisa Anda jalankan. Mungkin Anda sudah capek dan merasa nggak aman lagi bekerja di kantor, bisa jadi karena kebutuhan Anda yang sudah lumayan banyak sedangkan pendapatan Anda tak kunjung meningkat.

Masih ingatkah Anda pada kutipan “Besar Pasak Daripada Tiang?” Artinya “Lebih besar pengeluaran daripada pendapatan“. Dan inilah yang sebagian dari kita alami, terutama di daerah ibukota. Kebanyakan dari kita memiliki banyak beban tagihan bulanan, dan biasanya berasal dari kartu kredit, cicilan rumah, cicilan mobil, cicilan HP, dan lain sebagainya.

Sedangkan pendapatan yang kita peroleh hanya pas-pasan saja dan tidak naik secara signifikan. Apa yang biasa kita lakukan adalah dengan memangkas pengeluaran atau berhemat. Ini adalah pemikiran yang ngga salah, karena menurut saya, sekaya apapun kita nanti, lebih baik tetap hidup sederhana.

Tapi, pertanyaanya bagaimana bisa kaya bila hanya memangkas atau memperkecil “pasak-nya (pengeluarannya)” saja? Bukankah lebih baik yang diperbesar adalah tiang-nya? Atau pendapatannya.

Dan untuk memperbesar pendapatan, yang harus kita lakukan adalah dengan berpindah ke perusahaan lain yang bisa memberi gaji lebih besar, atau mencari pendapatan lainnya. Istilahnya kita mencari income stream lain. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan income lainnya?

Di artikel ini saya akan bahas sebetulnya apa sih yang “Paling Pas” dikerjakan oleh orang kantoran, ibu rumah tangga, ataupun pengusaha untuk lebih memperbesar pendapatannya.

Robert kiyosaki mengatakan, apabila kita memiliki kebebasan finansial dan waktu, kita sebaiknya berpindah kuadran dari employee, maupun self-employee ke kuadran business, atau dengan kata lain membuka bisnis.

Bila Anda ingin mendapatkan income stream lainnya selain dari kantor Anda maka satu-satunya jalan adalah dengan memiliki pekerjaan sampingan. Dulu saya sembari bekerja di kantor, saya juga mengerjakan freelance. Saya pikir itu bisa memberikan income stream lainnya. Memang sih pendapatan saya bertambah, tapi “waktu” yang saya miliki semakin berkurang.

Karena setelah selesai bekerja di kantor, saya langsung lanjut mengerjakan pekerjaan freelance saya. Lama-kelamaan mulai merasa capek sendiri, baik fisik maupun mental, karena faktanya pada waktu itu saya nggak berusaha berpindah ke kuadran pebisnis (B), melainkan saya menambahkan kuadran baru yaitu kuadran Self-Employee (S).

Jadi jangan ikuti apa yang pernah saya lakukan ya! Bila Anda ingin membuka usaha, lebih baik membuka usaha yang tersistem atau sudah memiliki sistem, sehingga ketika sudah berjalan, Anda bisa meninggalkan bisnis ini, dan bisnis ini tetap akan berjalan tanpa Anda.

Memang sih, ketika awal merintis usaha, kita sendiri masih perlu turun tangan langsung, tapi kan itu ngga berlangsung selamanya. Bila usaha kita sudah berjalan berdasarkan sistem, maka kita ngga perlu turun tangan lagi. Serahkan semua pada sistem yang ada.

Nah untuk bisa membuka usaha, ada tiga hal yang perlu Anda siapkan, yaitu modal, ilmu, dan mentor. Ketiganya adalah syarat penting demi suksesnya bisnis Anda.

1. Modal

Ini adalah syarat pasti dari sebuah bisnis. Semua bisnis itu perlu modal, dan besarnya bervariasi. Ada bisnis yang bisa dimulai dengan modal ratusan ribu, ada yang jutaan, bahkan ada yang miliaran. Sekarang pertanyaannya, bila Anda sudah mengeluarkan modal yang cukup besar untuk bisnis Anda, dan kemudian bisnis Anda nggak berjalan, apa yang terjadi dengan semua modal Anda?

Tentu saja semuanya menghilang lenyap ditelan bumi alias duit Anda amblass.

Saya akan memberi sebuah contoh. Si A membuka sebuah pabrik makanan ringan. Awalnya beliau bekerja kantoran di Singapura selama beberapa tahun. Kemudian ayahnya memanggil dia pulang ke Indonesia dan dibukakan sebuah pabrik makanan ringan beserta alat-alatnya.

Modal yang digelontorkan sekitar 2 Milyar. Setahun berjalan, produknya minim peminat, tahun berikutnya berjalan dan kondisinya masih sama, sedangkan biaya yang dikeluarkan sudah cukup besar. Singkat cerita, tutuplah pabrik tersebut. Lalu kemana uang 2 Milyar tersebut? Ya sudah pasti amblas.

Saya ada contoh lain lagi. Si B membuka sebuah restoran yang memang bagus. Modal yang dikeluarkan sekitar 800 juta. Tahun pertama dilalui dengan minus, alias masih rugi. Di tahun kedua, pendapatan yang diperoleh sudah menutup biaya operasional, alias nggak rugi dan nggak untung, tapi belum break even atau balik modal.

Tahun berikutnya juga sama, nggak rugi dan nggak untung. aDan di akhir tahun ketiga, akhirnya dia memutuskan untuk menutup restoran tersebut. Dibalik modal yang Anda keluarkan pasti ada resikonya.

Bila Anda mengeluarkan modal besar, maka persiapkan mental Anda akan apapun yang terjadi nanti. Bisa jadi Anda sukses, namun bisa juga Anda rugi bahkan bangkrut.

2. Ilmu

Hal kedua yang nggak kalah pentingnya adalah ilmu. Ini yang kebanyakan kita abaikan. Padahal ilmu itu penting banget. Sekarang bayangkan, bila Anda ingin membuka restoran pecel lele, namun Anda nggak ngerti sama sekali tentang seluk beluk pecel lele. Apa jadinya? Ya sudah pasti bisnis Anda akan tersendat-sendat, karena mau gak mau Anda harus test trial sendiri.

Pasti banyak gagalnya. aBukankah lebih baik Anda belajar dari orang yang sudah berpengalaman di bidang tersebut, sehingga ketika bisnism Anda dimulai, Anda sudah memiliki ilmunya.

Ilmu disini bukan sekedar pengetahuan di bidang bisnis yang Anda jalankan. Namun juga pengetahuan mengenai “bisnis” itu sendiri. Bagaimana seorang pengusaha berpikir. Bagaimana seorang pengusaha bertindak dan berbicara. Bagaimana seorang pengusaha memimpin, dan lain sebagainya.

Itu semua harus Anda pelajari!

3. Mentor

Tahu tidak, faktanya semua orang sukses di dunia ini pasti mempunyai seorang mentor. Mentor itu penting banget demi berhasilnya bisnis Anda. Bila di tengah jalan Anda menemukan masalah yang gak bisa Anda selesaikan, maka mentor And lah yang dapat membantu Anda.

Atau bila ditengah jalan Anda punya mindset yang salah, maka mentor Anda yang bisa membetulkannya. Mentor juga berperan dalam memberikan semangat, pemikiran-pemikiran yang positif, dan solusi untuk bisnis Anda Oleh karenanya, mentor sangatlah penting.

Ribet banget ya? Ya memang, itulah dunia pengusaha. Sekarang saya mau tanya? Maukah Anda membuka bisnis Anda sendiri?

Pertanyaannya simpel.

1. Bisnis seperti apa yang ingin Anda buka, dan berapa modalnya? Lalu sudahkah Anda menyiapkan modalnya?

2. Sudahkah Anda memiliki ilmunya? Apakah Anda sudah belajar atau tahu tempat dimana Anda bisa belajar tentang bisnis tersebut?

3. Sudahkah Anda menemukan mentor?

Bila ketiga pertanyaan tersebut sudah bisa Anda jawab dengan yakin, maka monggo saja bila ingin membuka bisnis sendiri. Namun ingat, pasti ada resikonya. Modal besar, maka siap rugi besar.

Apabila Anda tidak memiliki modal yang cukup, bingung belajar bisnis dari siapa, dan belum tahu harus belajar pada siapa alias belum punya mentor..

Maka Robert Kiyosaki menyarankan satu sistem bisnis yang bisa Anda jalankan, yaitu Network Marketing atau istilah kerennya bisnis pemasaran jaringan seperti bisnis asuransi Allianz ini. Mengapa?

1.  Bisnis ini tidak memerlukan modal yang besar alias low risk.

Modal yang perlu Anda keluarkan sangat kecil. Bila dibandingkan dengan bisnis lain, modal bisnis ini jauh lebih kecil. Oleh karenanya disebut minim resiko.

2. Ada Sistem Pendidikannya

Biasanya bisnis asuransi yang benar itu ada sistem pendidikannya. Jadi Anda bisa belajar seluk beluk bisnis ini, dari bagaimana cara memulainya; Apa yang harus disiapkan; Bagaimana cara membangun bisnis ini; Hingga product knowledgenya.

Semuanya disediakan oleh perusahaan atau agency, sehingga Anda nggak perlu repot-repot mencari tahu sendiri. Bila Anda ingin menjalankan bisnis asuransi ini, maka pilihlah bisnis asuransi yang menyediakan sistem pendidikan dan pelatihan yang bagus.

3. Mentor Yang Supportive

Setiap Anda gabung di bisnis asuransi ini, pasti Anda memiliki upline alias mentor sendiri. Anda bisa belajar dari mereka-mereka yang sudah berhasil terlebih dahulu. Apa tips mereka; Apa yang mereka lakukan, dan lain sebagainya.

Intinya Anda akan disupport habis-habisan oleh mentor Anda agar sukses di bisnis asuransi ini. Mengapa kok bisa begitu? Karena pada dasarnya bila Anda sukses, maka mentor Anda juga akan menikmati kesuksesan Anda bersama dengan Anda.

4. Keuntungan Besar

Bisnis asuransi Allianz bukanlah bisnis yang memberikan pendapatan begitu-begitu saja. Tahu tidak, Ada banyak orang-orang profesional, bahkan pengusaha dan dokter yang menjalankan bisnis ini. Mengapa? Karena mereka sudah melek akan potensi finansial yang bisa dihasilkan oleh bisnis asuransi Allianz ini.

Awalnya memang sulit, karena kita harus membangun jaringan kita, namun ketika jaringan sudah terbentuk, maka pendapatan pun akan mengalir dengan sendirinya. Pendapatannya beragam, dan itu semua tergantung kita yang menjalankannya.

Ada yang mulai dari 5 juta per bulan, ada yang 15 juta per bulan, ada yang ratusan juta per bulan, dan bahkan ada yang sudah mencapai milyaran per bulan. Semua tergantung kemauan kita dalam menjalankannya.

Oh ya, jangan berpikir bila Anda bergabung sekarang maka pendapatan Anda akan jauh lebih kecil dibandingkan dengan orang yang sudah bergabung duluan. Di bisnis Asuransi tidak ada namanya orang yang pertama gabung yang bakal diuntungkan. Itu hanya ada di money game! Ingat ya!

Jadi nggak perlu khawatir, karena meskipun Anda bergabung terakhir, Anda tetap bisa menjadi top performer di bisnis asuransi Allianz ini. Sekali lagi, semua tergantung Anda nya.

Bila Anda mencari usaha modal kecil dengan untung besar, maka bisnis asuransi Allianz lah jawabanny. Apalagi bila Anda belum punya modal yang cukup, belum memiliki ilmu yang cukup, dan belum memiliki mentor. Karena biasanya di bisnis asuransi Allianz ini Anda akan mendapatkan ketiganya sekaligus.

Jadi jangan ulur-ulur waktu Anda lagi, karena semakin Anda mengulurnya, maka semakin Anda tertekan karena kebutuhan dan situasi. Mulailah Sekarang. Jangan tunda lagi.

Tips Agar Disukai Orang Banyak

Dalam bisnis asuransi, menjadi seseorang yang disukai orang lain sepertinya sudah menjadi keharusan. Karena pada dasarnya bisnis ini adalah bisnis networking, dan kita sebagai pelaku bisnis mau nggak mau dituntut untuk dapat berkomunikasi dengan asik dan menjadi sosok yang menyenangkan dimata prospek kita.

Namun kebanyakan orang yang menjalankan bisnis ini tidak tahu pentingnya menjadi sosok yang menyenangkan, dan juga tidak tahu bagaimana cara untuk menjadi sosok tersebut. Apalagi setelah Anda berhasil membangun jaringan, maka Anda harus menjadi seorang leader yang kemudian memimpin jaringan Anda sendiri.

Jadi mau nggak mau Anda harus belajar menjadi seorang pemimpin yang baik dan yang disukai oleh seluruh anggota Anda. Kali ini saya akan membagikan beberapa hal yang wajib Anda hindari untuk menjadi seseorang yang menyenangkan atau disukai orang lain.

1. Jangan Banyak Bicara

Saya juga merasa selama ini yang saya pahami sudah salah. Yang saya tahu, jika saya ingin menjadi sosok yang menyenangkan, maka saya harus banyak bicara. Faktanya hal tersebut nggak sepenuhnya benar. Apa yang membedakan orang yang “ramah” dan orang yang “disukai”?

Orang yang ramah adalah orang yang selalu menegur sapa, dan enak diajak bicara, karena mereka cenderung suka ngobrol. Sedangkan orang yang “disukai” adalah orang yang mengerti orang lain.

Mereka cenderung lebih suka mendengarkan cerita orang lain, karena pada dasarnya kita sebagai manusia itu suka perhatian. Dan dengan lebih didengarkan, maka kita akan cenderung merasakan perhatian lebih.

2. Jangan Suka Mengeluh atau Menyalahkan Orang Lain

Apakah Anda termasuk orang yang suka mengeluh atau menyalahkan orang lain? Mungkin di tempat kerja Anda, ketika project Anda tidak meet the deadline, maka Anda kemudian menyalahkan project managernya? Atau Anda menyalahkan staff lain yang mengerjakan project tersebut?

Atau mungkin di team Anda, ketika seorang downline tidak mencapai target, apakah Anda akan menyalahkan upline-nya? Atau mungkin Anda cenderung menyalahkan diri sendiri ketika sesuatu yang buruk terjadi?

Kita sebagai manusia seringkali melakukan hal ini. Saya juga jujur terus belajar untuk tidak menyalahkan kondisi dan situasi, namun terus berusaha menghadapi kondisi apapun sekuat tenaga. Semakin Anda bisa bertanggung jawab di dalam keadaan apapun, semakin Anda bisa belajar banyak hal dan juga semakin kuat dari sebelumnya.

Jadi daripada menyalahkan orang ataupun kondisi sekitar, berjuanglah dalam situasi dan keadaan seperti apapun. Dengan begitu Anda akan menjadi orang yang lebih disukai oleh orang-orang di sekeliling Anda.

3. Jangan Terus Menerus Berusaha Memberi Kesan Yang Baik Kepada Orang Lain

Mungkin Anda punya rumah yang megah, atau punya mobil mahal, atau Anda punya pakaian yang bermerk. Orang lain akan suka dengan apa yang Anda punya. Orang lain akan suka dengan penampilanmu. Tapi dalam relationship bukan hal-hal seperti itu yang dicari. Bila Anda memiliki teman-teman atau kerabat yang hanya tertarik dengan hal-hal diatas, maka mereka bukanlah teman-teman sejati.

Teman sejati akan menerima Anda apa adanya. Jadi daripada terus menerus berusaha memberikan kesan atau impresi baik kepada orang lain, mending mulai sekarang jadi dirimu sendiri. “Be yourself”.

4. Jangan Memotong Pembicaraan Orang

Siapa sih orang yang suka dipotong pembicaraannya. Pasti ngga ada ya, termasuk Anda. Orang yang memotong pembicaraan terkesan tidak menghargai apa yang disampaikan oleh orang lain. Dan hal tersebut akan membuat lawan bicaranya tidak menyukainya.

Lebih baik mendengarkan lawan bicara Anda hingga selesai berbicara, lalu kemudian menanyakan pertanyaan-pertanyaan. Hal itu jauh lebih baik daripada memotong pembicaraan. Orang lain akan merasa lebih dihargai dan diperhatikan.

5. Jangan “Bossy” atau Suka Mengontrol Orang

Apakah Anda suka diatur orang? Apakah Anda suka disuruh begini begitu dan patuh terhadap atasan Anda? Saya yakin semua orang ngga suka tipe-tipe orang yang seperti ini, “bossy”.Demikian juga Anda, meskipun Anda menduduki posisi yang bagus di perusahaan Anda atau di dalam perusahaan jaringan Anda.

Jangan pernah jadi bossy. Jangan suka mengontrol orang lain. Daripada Anda terus-menerus mengontrol orang, lebih baik menawarkan bantuan pada orang. Menawarkan bantuan itu jauh lebih baik daripada hanya mengontrol dan menyuruh orang lain.

Jadi mulai sekarang sebagai leader, Anda harus belajar menjadi seorang “Servant Leader”. Artinya seorang pemimpin yang melayani, sehingga Anda akan lebih dan lebih lagi disukai oleh banyak orang.

6. Jangan Ceramahin Orang

Orang yang suka mengkritik biasanya mereka cenderung juga suka ceramahin orang atau bahkan menghakimi orang lain. Semakin tinggi posisi atau apa semakin banyak ilmu yang sudah Anda pelajari, maka semakin Anda merasa tahu segalanya, dan cenderung ingin menceritakan segalanya kepada orang lain, atau istilahnya ceramah.

Ketika Anda melakukan hal diatas, maka orang lain mungkin mendengarkan Anda, tapi mereka lebih cenderung mengabaikan apa yang Anda sampaikan. Bila Anda sudah mencapai level tertentu di bisnis asuransi, jangan menjadi orang yang suka berceramah.

Jangan jadi orang yang suka mengkritik ini itu dan bahkan menghakimi mitra/agen Anda. Namun Anda harus memposisikan mereka menjadi bagian Anda, karena tanpa mereka Anda juga nggak akan bisa mencapai level tersebut di bisnis asuransi ini.

7. Jangan Mengungkit Masa Lalu

Yang terakhir adalah jangan suka mengungkit masa lalu. Masa lalu itu memang bernilai, karena memberi Anda banyak pelajaran berharga. Namun masa lalu bukanlah jadi penentu masa depan Anda. Masa lalu Anda tidak akan pernah mempengaruhi masa depan Anda.

Daripada jadi orang yang terus menerus mengungkit kegagalan-kegagalan masa lalu, mendingan berdiam diri dan mulai take action sekarang untuk memperbaiki masa depan Anda sekarang juga. Dengan begitu Anda akan menjadi orang yang lebih optimis akan segala sesuatu, dan otomatis akan lebih disukai orang lain.

Gunakan Talenta Kamu untuk Menjalankan Bisnis Asuransi Allianz

Saya yakin Anda pasti punya talenta atau hobi, entah itu gym, traveling, hiking, main game, koleksi manga, board game, dan lain sebagainya. Saya yakin sekali ketika Anda menjalankan hobi Anda, maka Anda akan merasa senang dan waktu terasa singkat banget. Yes, itu karena Anda menyukai apa yang Anda lakukan.

Saya yakin kebanyakan dari Anda menggunakan talenta Anda atau menjalankan hobinya ya begitu-begitu saja. Mungkin banyak diantara Anda yang nggak pernah terpikir untuk menggunakan hobi Anda untuk menarik prospek.

Loh, memang bisa ya? Jelas bisa dong! Sekarang ini jamannya sosial media, dan Anda juga harus memanfaatkannya untuk memaksimalkan bisnis Anda. Dengan mengawinkan sosial media dan hobi Anda maka akan menghasilkan kekuatan yang hebat yang dapat menarik prospek kepada Anda.

Mengapa menggunakan sosial media? Karena sosial media adalah sarana yang paling mudah untuk berbagi dengan teman-teman, saudara dan orang lain. Sekarang ini banyak sekali platform sosial media yang bisa Anda gunakan, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dan lain sebagainya.

Saran saya sih, pilih salah satu platform, dan fokus disitu. Misalkan Anda suka share artikel, atau update status, live video, maka Anda bisa menggunakan Facebook. Atau misalkan Anda suka posting foto-foto bagus, kemudian share keseharian Anda dengan cepat, maka Anda bisa gunakan Instagram. Misalkan Anda suka membuat video, kemudian edit video Anda sendiri, maka gunakan Youtube. Jadi sesuaikan dengan kesukaan Anda.

Lalu, bagaimana caranya untuk menarik prospek? Sebelum membahas cara menarik prospek, sekarang saya ingin Anda jawab pertanyaan saya, “Apa itu prospek?” Pengertian prospek adalah kemungkinan dan harapan. Secara sederhana, definisi ini berarti jika prospek adalah hal-hal yang mungkin terjadi dalam suatu hal sehingga berpotensi menimbulkan dampak tertentu.

Dalam perspektif bisnis Asuransi, prospek adalah orang-orang yang memiliki kemungkinan untuk bergabung di bisnis kita atau bisa juga tidak bergabung di bisnis kita. Jadi, prospek itu cakupannya luas.

Saudara-saudara Anda itu prospek. Teman-teman Anda  itu prospek. Bahkan orang yang baru Anda kenal di sosial media pun adalah prospek. Dengan menggunakan sosial media, maka tugas Anda adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya prospek, atau followers. Lalu caranya bagaimana?

Pernah ngga baca buku “The Secret”, tulisan Rhonda Byrne? Atau buku berjudul “The Law Of Attraction, The Basic Teachings of Abraham”, tulisan Esther Hicks? Buku ini mengajarkan tentang hukum ketertarikan yang ada di alam semesta. Apa yang Anda pikirkan akan tertarik ke kehidupan Anda.

Misalkan Anda berpikir akan memiliki rumah yang besar, dan Anda terus-menerus memikirkannya, maka otomatis perlahan-lahan rumah tersebut akan terwujud di dalam hidup Anda. Bila Anda berpikir akan memiliki mobil, maka otomatis perlahan-lahan mobil tersebut akan terwujud di kehidupan Anda.

Demikian juga bila Anda memikirkan hal-hal negatif, seperti kecelakaan, sakit, dll. Hal-hal seperti itu juga akan terwujud ke dalam hidup Anda. Jadi konsep inilah yang harus Anda gunakan dalam sosial media Anda. Ketika Anda share tentang hal-hal yang berhubungan dengan mancing, maka orang-orang yang punya minat sama yang akan tertarik kepadamu.

Misalkan Anda share tentang hal-hal yang berhubungan dengan fitness dan kesehatan, maka orang-orang yang tertarik untuk mengikuti Anda adalah orang-orang yang juga tertarik di bidang health and fitness. Contoh lainnya, bila Anda share hal-hal tentang bisnis, maka orang-orang yang mengikutimu adalah orang-orang yang memiliki minat di bidang bisnis.

Simple bukan? Lalu Apa Step Berikutnya? Berbagi.

Ya, berbagi. Anda harus berbagi hobi Anda kepada orang lain. Misalkan Anda suka fitness, maka bagikan aktivitas Anda saat ngegym. Atau bagikan aktivitas Anda saat memasak makanan sehat. Atau bagikan aktivitas Anda saat menikmati sarapan, menikmati makan siang, ataupun makan malam- Anda. Bagikan pula resep-resep sehat Anda.

Dengan berbagi Anda akan secara otomatis membangun “trust”. Orang lain yang mengunjungi sosial media Anda akan tertarik untuk follow akun Anda (jika memang dia memiliki minat yang sama dengan Anda). Disinilah Anda mulai membangun audience, atau istilah kerennya follower.

Saya sendiri follow beberapa public figure di instagram dan beberapa dari mereka sering melakukan endorse, atau bahkan review produk-produk tertentu. Saya sebagai followernya pasti otomatis melihat reviewnya bukan? Entah bagaimana, saya beberapa kali tertarik dengan produk yang mereka tawarkan dan kemudian langsung membelinya.

Bukan karena saya tahu produknya bagus maka saya membelinya, namun karena saya percaya pada public figure tersebut. Pikiran saya tuh otomatis berpindah mode logika, dan saya percaya sih itu semua karena adanya “trust”. Karena saya menaruh trust pada si public figure tersebut.

Bukan karena produknya bagus maka public figure tersebut menggunakannya/mereviewnya, namun karena public figure tersebut menggunakan/mereviewnya maka saya percaya produk itu bagus.

Sampai disini paham ya pentingnya trust?! Ketika follower sudah terbentuk, dan Anda sudah berhasil membangun trust, maka Anda bisa tawarkan apa saja, termasuk peluang bisnis Asuransi yang sedang Anda jalankan. Dan peluang mereka untuk bergabung akan lebih besar, bila mereka sudah menaruh trust kepadamu.

Jadi jangan lupa untuk terus-menerus share segala hal yang bermanfaat bagi follower Anda ya. Dan juga terus membangun hubungan dengan mereka, yaitu dengan terus berinteraksi dengan mereka, seperti membalas pesan mereka, membalas komentar mereka, atau bahkan like postingan mereka.

So, pada artikel ini saya hanya ingin berbagi kepada Anda, bahwa hobi atau talenta Anda itu bisa digunakan untuk menarik prospek. Pada jaman sekarang intinya Anda harus lebih peka terhadap peluang-peluang yang muncul karena kemajuan teknologi.

Sosial media adalah salah satu sarana yang bisa jadi peluang buat Anda untuk mendapatkan prospek. Bukan hanya di daerahmu loh, tapi bahkan di seluruh Indonesia. Yang perlu Anda lakukan hanya dengan berbagi hobi Anda, berbagi aktivitas keseharian Anda, berbagi segala hal yang bermanfaat bagi orang lain, sehingga orang lain tertarik untuk memfollow Anda.

Dengan melakukan hal tersebut secara konsisten, dan terus berinteraksi dengan follower Anda, maka secara otomatis Anda akan membangun trust. Dan dengan terbentuknya trust, maka akan lebih mudah bagi Anda untuk menawarkan peluang bisnis asuransi kepada follower Anda.

Semua Bisnis Memiliki Skema Piramida

Menjalankan bisnis Asuransi itu nggak mudah, saya tahu karena saya mengalaminya. Dulu ada orang yang pernah menawarkan bisnis Asuransi pada saya, dan cara menawarkannya pun salah banget menurut saya. Dia memberikan iming-iming bahwa bisnis ini mudah.

Lalu jika saya bergabung di bisnis ini, maka saya bakal cepat kaya, tinggal ongkang-ongkang kaki, uang terus mengalir. Well, Itu semua omong kosong! Tapi semua itu sebenarnya bisa terjadi loh. Namun perlu proses pastinya.

Namanya bisnis asuransi, ya tetap bisnis, perlu proses dan dedikasi untuk membangunnya hingga berhasil. Dicatat ya agar tidak mimpi di siang bolong.

Oh, ya saya sendiri adalah seorang introvert. Saya merasakan begitu sulitnya bagi saya untuk terus berinteraksi dengan orang lain, harus telpon sana sini untuk mengajak orang bergabung, ditolak sana sini, dihindari oleh teman, bahkan keluarga.

Saya juga mengalami bagaimana bingungnya kehabisan orang lagi untuk di-prospek, karena semua orang sudah saya hubungi dan sebagian besar dari mereka menolak. Oleh karena itu mau nggak mau saya harus mencari orang-orang baru untuk saya prospek nanti.

Asli capek banget.. Capek fisik dan mental!

Dan lagi, sekarang ini banyak banget orang yang memandang negatif terhadap bisnis Asuransi, jadi bakal semakin sulit untuk meyakinkan orang lain untuk mulai masuk di bisnis ini. Yang saya tahu sih kebanyakan orang nggak mau join di bisnis ini karena mereka seperti merasa dijebak.

Menurut saya bisnis asuransi dinilai negatif karena ulah sebagian agennya yang memiliki mentalitas yang salah, dan menggunakan cara yang salah untuk membangun bisnis ini. Mereka cenderung membesar-besarkan sesuatu, memberikan janji berlebihan ketika mengajak orang bergabung atau buruknya lagi, bahkan menipu.

Bisnis asuransi juga dinilai buruk karena bisnisnya yang memiliki skema piramida, yang dinilai hanya menguntungkan orang yang bergabung terlebih dahulu, dan merugikan orang yang gabung terakhir. Tapi menurut saya itu semua tidak 100% bener. Semuanya tergantung bagaimana model bisnis di dalamnya, bagaimana sistem kompensasinya, dan lain sebagainya.

Di artikel ini saya akan membahas seperti apa skema piramida itu dan apakah itu salah atau tidak. Yuk simak!

Skema Piramida

Masalah pyramid scheme atau skema piramida, pada dasarnya semua bisnis Asuransi memiliki skema berbentuk piramida. Ingat ya! Berbentuk! Jadi bentuknya saja yang piramida. Namun aturan di dalamnya lah yang menentukan apakah skema piramida yang digunakan legal atau ilegal.

Cara yang paling gampang untuk menentukan apakah bisnis Asuransi memiliki skema piramida legal atau ilegal adalah dengan melihat fokus bisnisnya. Biasanya sih bisnis Asuransi  ilegal akan lebih berfokus pada perekrutan orang. Komisi yang Anda dapatkan dari perekrutan akan lebih besar dari komisi penjualan produk.

Sebaliknya, bisnis asuransi yang legal biasanya memberikan komisi kecil atau bahkan tidak memberikan komisi sama sekali ketika Anda berhasil merekrut orang. Karena fokusnya pada penjualan produk asuransi atau retail.

Memang sih merekrut mitra/agen yang banyak itu penting, tapi bukan karena komisinya, namun karena dengan adanya mitra/agen yang banyak, otomatis kita membangun sistem pendistribusian produk yang semakin luas. Dengan jaringan distribusi yang luas, maka otomatis penjualan produk juga akan meningkat.

Biasanya dalam skema piramida ilegal orang yang lebih dahulu bergabung yang akan mendapatkan keuntungan paling besar. Posisinya tetap, dan tidak dapat digantikan atau dibalap oleh downline di bawahnya. Inilah yang disebut dengan ongkang-ongkang kaki, uang mengalir sendiri. Karena tanpa melakukan apapun, uang akan terus mengalir.

Lha kok bisa? Ya bisa saja, kan uang mengalirnya dari komisi perekrutan orang-orang dibawahnya, dan bukan dari penjualan produk.

Beda banget dengan bisnis asuransi legal dimana fokusnya adalah pada penjualan produk. Ketika Anda nggak kerja, maka otomatis nggak akan ada penghasilan. Namun ketika Anda berhasil membangun jaringan distribusi yang luas, maka bisa jadi upline Anda bakal ketinggalan jauh di belakang Anda.

Dari segi produk juga dapat dilihat apakah harga yang diberikan terlalu mahal untuk kualitas barang seperti itu. Saya sih selalu menghindari perusahaan Asuransi yang memiliki produk asuransi dengan harga yang nggak wajar. Selain Anda bakal kesulitan menjual produknya, perusahaan seperti ini bisa jadi memanfaatkan harga tinggi dari produknya sebagai komisi perekrutan.

Skema Piramida di Bisnis Lain

Nggak hanya bisnis Asuransi yang memiliki skema piramida. Semua bisnis cenderung punya skema yang sama. Kalau Anda masih bekerja di kantor. Coba sekarang urutkan skema jabatan di kantor Anda, dimulai dari boss Anda, hingga ke staff yang paling bawah.

Boss yang memimpin seluruh perusahaan, artinya dia di posisi paling atas. Kemudian dibagi lagi menjadi divisi-divisi yang dipimpin oleh kepala divisi. Kemudian di masing-masing divisi biasanya ada team yang dikepalai oleh kepala team atau team leader. Dan terakhir di dalam team tersebut biasanya ada beberapa anggota team.

Bentuknya piramida bukan? Siapa yang paling kaya? Apakah anggota team? Apakah kepala team? Apakah kepala divisi? Apakah boss? Sudah jelas orang yang menduduki posisi pertama yaitu boss. Boss-lah yang punya gaji paling besar. Sekarang pertanyaan saya, Apakah seorang member bisa menggantikan posisi boss, bila boss tersebut masih ada?

Jawabnya ya Bisa Iya, Bisa Tidak. Perlu proses yang lama dan kemungkinannya bakal kecil jika si boss masih berada di posisi puncak. Apalagi jika perusahaan tersebut adalah bisnis keluarga, sudah pasti nggak mungkin lagi untuk menggantikan posisi boss.

Oke, sekarang coba lihat skema dari sebuah pabrik. Bentuknya piramida bukan? Ini bukan tentang siapa yang dapat duit lebih banyak lagi, tapi tentang jaringan distribusi produk. Pabrik memerlukan jaringan untuk mendistribusikan produknya, oleh karena itu pabrik memerlukan distributor.

Distributor perlu membangun jaringannya juga, sehingga distributor memerlukan jaringan distribusi lain yaitu toko-toko. Toko-toko kemudian memasarkan produknya langsung ke konsumen. Barang yang paling banyak terjual milik siapa? Ya tentu pabrik.

Sekarang pertanyaannya sama, Bisa nggak konsumen/customer menjadi distributor? Jawabannya, Bisa banget, masalahnya tinggal punya modal atau tidak. Bisa ngga customer menjadi boss pemilik pabrik? Jawabannya, Bisa saja. Kan tinggal bangun atau beli pabrik! Tapi masalahnya, Anda punya modal tidak? Karena membuat pabrik nggak murah, dan jika gagal maka kerugian Anda juga bakal sangat amat banyak.

Jadi sekarang Anda sudah tahu bahwa hampir semua skema bisnis itu menggunakan skema piramida. Lalu apa yang salah dengan bisnis asuransi ? Saya akan tanyakan kembali pertanyaan yang sama. Bisakah downline menjadi upline, atau menduduki top performer di perusahaan asuransi tersebut?

Jawabannya, sangat bisa.

Dan apakah orang yang jauh berada diatas Anda memiliki pendapatan paling besar? Nggak juga. Mengapa? Karena ketika orang yang berada jauh di atas Anda tidak bekerja keras untuk membangun jaringannya, maka pendapatannya pun akan stagnan atau bahkan menurun, karena minim penjualan.

Malah bisa jadi Anda mengalahkannya suatu saat. Itulah uniknya bisnis asuransi seperti bisnis asuransi Allianz ini. Perlukah modal yang besar untuk memulai bisnis ini? Sama sekali tidak. Namun untuk bisa sukses dan menduduki posisi top performer, diperlukan kerja keras.

Ada banyak alasan mengapa sebagian besar orang gagal di bisnis asuransi, seperti kurangnya pengetahuan bisnis atau kurangnya pengetahuan marketing.

Namun yang paling banyak terjadi adalah karena sebagian besar downline tidak mampu menduplikasi apa yang dilakukan upline-nya. Ketika upline mampu melakukan presentasi bisnis, downline juga harus mampu melakukannya.

Ketika upline mampu berkenalan dan berinteraksi dengan orang baru, downline juga harus mampu melakukannya. Ketika upline mampu melakukan follow up pada orang lain, maka downline juga harus mampu melakukannya. Namun kebanyakan cara yang dilakukan upline adalah cara konvensional yang diajarkan di kebanyakan bisnis asuransi.

Contohnya untuk menawarkan peluang bisnis asuransi, kebanyakan dari kita diajarkan untuk mengumpulkan daftar nomor telepon teman dan keluarga kita, kemudian mulai menghubungi mereka satu persatu.

Apakah cara seperti diatas sudah nggak bisa berjalan lagi?

Bisa! Absolutely Bisa! Namun masalahnya nggak semua orang mau melakukannya. Ada banyak orang yang memiliki karakter introvert, pendiam dan sangat ngga nyaman untuk melakukan cara diatas. Akibatnya mereka stuck!

Mereka nggak kemana-mana. Mereka gak sanggup menduplikasi apa yang dilakukan upline mereka. Dan akhirnya bisnis Asuransi mereka pun berhenti. Oleh karena itu akhirnya muncul sebuah strategi yang tujuannya mengatasi kendala tersebut, yaitu strategi untuk menjalankan bisnis asuransi dengan memanfaatkan teknologi internet.

Fakta Tentang Bisnis Asuransi Allianz

“Yaahh, kena deh gue!”, Ini biasanya kata-kata yang bakal muncul dari orang yang sadar dia sedang diprospek untuk bergabung menjadi mitra/agen di bisnis Asuransi. Banyak banget orang yang skeptis terhadap bisnis ini, dan inilah fakta tentang bisnis asuransi.

Apakah seburuk itu bisnis asuransi? Sebetulnya bukanlah bisnis asuransi nya yang buruk, karena pada dasarnya bisnis asuransi hanya metode pemasaran produk asuransi nya saja. Sedangkan yang bikin buruk adalah orang-orang yang menjalankannya.

Misalnya cara mereka memasarkan produk dan menawarkan bisnis cenderung salah, banyak yang membesar-besarkan sesuatu, bahkan yang paling sadis lagi, mereka sampai menipu.

Salah satu contoh adalah dengan mengatakan membayar premi asuransi cukup hanya sampai 10 tahun saja trus selanjutnya premi asuransi nya tidak perlu dibayarkan lagi karena polis asuransi nya akan tetap aktif selamanya sampai si tertanggung nya meninggal dunia.

Ini jelas jelas menipu dan salah. Hanya karena ingin agar dagangannya laku maka ada segelintir agen asuransi yang tega untuk melakukan cara pemasaran yang tidak etis seperti ini. Ujung ujungya tentu nasabah nya yang menjadi korban. Kan kasihan sekali.

Selain itu juga ada yang merekrut mitra/agen baru dengan mengatakan bahwa bisnis asuransi ini bisa merupakan bisnis yang mudah membuat Anda menjadi kaya dalam sekejap. Ongkang ongkang kaki saja, duit akan datang dengan sendiri nya. Saya yakin kebanyakan orang awam akan termakan tipuan-tipuan bahwa bisnis  asuransi ini adalah bisnis mudah. Dengan kerja sedikit, maka uang akan mengalir deras.

Beranjak waktu, saya sadar bahwa bisnis Asuransi tidak seperti yang kebanyakan orang pikir. Bisnis asuransi ini tidaklah mudah, namun bila dikerjakan dengan sungguh-sungguh, maka tentunya hasilnya akan luar biasa.

Bila Anda skeptis terhadap bisnis ini, maka Anda sudah berada di jalur yang tepat, karena faktanya, bisnis Asuransi bukanlah bisnis yang mudah. Dan kenyataanya, bisnis ini seperti bisnis lainnya yang memerlukan kerja keras dan waktu untuk berkembang.

Fakta 1. Bisnis Asuransi Adalah Bisnis Dengan Modal dan Tingkat Resiko Paling Kecil

Berapa modal yang Anda perlukan untuk memulai bisnis ini? Tidak besar kok bahkan cenderung gratis karena modal yang dikeluarkan di awal itu digunakan melengkapi Anda dengan tools yang diperlukan untuk memulai bisnis ini. Sedangkan untuk bergabungnya sendiri sebenarnya gratis.

Lalu bagaimana dengan resiko bisnis ini? Bisa dibilang bisnis Asuransi itu tanpa resiko, mengapa? Karena modalnya kecil dan juga Anda nggak perlu mengelola banyak hal. Anda nggak perlu memikirkan produksi produk, stock barang, pengiriman, gudang, dll. Yang perlu Anda pikirkan hanya 2 hal, yaitu pemasaran produk asuransi dan perekrutan mitra/agen baru.

Karena pada dasarnya bisnis Asuransi adalah bisnis pemasaran produk dan peluang bisnis. Jadi skill marketing menurut saya sangatlah penting di sini.

Fakta 2. Setiap Saat ada saja Beberapa Bisnis Asuransi yang Baru

Ini nggak bisa dipungkiri loh, apalagi di Indonesia yang jumlah penduduknya merupakan terbesar ke 4 di dunia. Bisnis Asuransi walaupun dipandang sering skeptis, namun banyak juga pemain baru yang masuk ke industri ini baik pemain lokal maupun pemain dari luar.

Meningkatnya perusahaan Asuransi baru di Indonesia berbanding lurus dengan meningkatnya orang-orang yang masuk ke bisnis asuransi sebagai mitra/agen. Entah mereka berpindah dari perusahaan Asuransi yang satu ke yang lainnya, atau mereka adalah para karyawan yang ingin mengadu nasib sebagai pengusaha asuransi.

Dari beberapa fakta tersebut saya yakin kalau model bisnis ini bakal bertahan lama bahkan beberapa puluh atau ratusan atau bahkan ribuan tahun ke depan. Intinya, orang-orang yang tertarik untuk bergabung di bisnis asuransi sebagai mitra/agen selalu meningkat dari tahun ke tahun, dan inilah faktanya.

Fakta 3. ASURANSI Adalah Bisnis Legal karena skemanya mirip piramida

Banyak yang bilang bahwa bisnis Asuransi berskema piramida dan artinya bisnis ini adalah bisnis ilegal. Padahal semua bisnis itu memiliki skema piramida.

Coba saja Anda gambarkan bagaimana skema di sebuah perusahaan. Ada CEO di posisi paling atas, kemudian ada kepala divisi di bawah CEO, kemudian ada team lead di bawah kepala divisi, dan kemudian staff biasa dibawah team lead. Bila digambarkan, bentuknya pasti piramida.

Sekarang coba Anda gambarkan juga skema di perusahaan retail. Pemilik pabrik akan berada di posisi paling atas, kemudian ada distributor-distributor yang berada dibawah pabrik, kemudian ada agen-agen yang berada dibawah distributor, kemudian terakhir konsumen. Bila digambarkan, bentuknya juga pasti akan seperti piramida.

Lalu mengapa mereka tidak dianggap ilegal? Padahal orang yang berada di posisi paling atas adalah orang yang paling kaya. Bukankah konsep seperti ini ilegal menurut orang orang tersebut?  Beberapa orang yang langsung beranggapan bahwa bisnis Asuransi adalah ilegal itu mungkin mengalami hal yang tidak mengenakkan dengan bisnis ini.

Entah mereka korban prospek “tidak benar” dari sahabat-sahabat atau saudara saudara nya. Atau bahkan mereka telah ditipu, sehingga mereka langsung menyamaratakan bisnis Asuransi dengan bisnis penipuan.

Bisnis Asuransi yang benar justru memberikan keuntungan yang unik. Karena Anda sebagai mitra/agen bisa mengalahkan posisi upline Anda bila upline Anda tidak pernah bekerja keras untuk membangun jaringannya. Semuanya tergantung kerja keras dan usaha Anda.

Fakta 4. Banyak Orang Yang Bergabung Di Bisnis ASURANSI Dan Gagal

Euforia sesaat bisa membuatn Anda gagal di bisnis ini. Apalagi bila Anda mudah banget termakan janji-janji muluk yang diberikan oleh orang lain. Mungkin banyak yang pernah mengalaminya.

Sebelum bergabung biasanya mereka memikirkan hal-hal menyenangkan seperti mereka nggak perlu kerja dan uang dengan deras mengalir. Mereka juga membayangkan bisa memiliki rumah dan mobil mewah dalam waktu singkat. Itu semua karena mereka termakan oleh kata-kata yang dilontarkan oleh orang lain.

Dan ternyata kenyataannya tidak seperti itu. Bisnis ini gak  bisa berjalan dengan singkat, perlu waktu dan proses sama seperti bisnis lainnya. Itulah fakta bisnis asuransi termasuk bisnis asuransi Allianz ini. Saya yakin banyak banget yang mengalami hal sama seperti itu. Mungkin mereka join di bisnis asuransi karena janji-janji tersebut, atau mungkin karena memang tertipu.

Dan kemudian setelah beberapa waktu tidak kunjung menghasilkan, maka mereka merasa bisnis ini tidak bisa berjalan dan akhirnya mereka berhenti menjalankan bisnis asuransi ini. Lingkaran setan ini akan terus berjalan bila Anda nggak melek pada realita bisnis yang sebenarnya.

Bisnis adalah bisnis.

Untuk mengembangkan bisnis Asuransi, kita harus berpikir seperti pengusaha yang mengembangkan bisnisnya sendiri. Bakal banyak problem yang muncul, bakal banyak tantangan yang muncul, but if you’re an entrepreneur, then face it. Jangan Manja…

Pendapat Robert T Kiyosaki tentang Bisnis Jaringan

Saya merupakan salah satu fans dari Robert T Kiyosaki, karena jujur bukunya yang berjudul Rich Dad Poor Dad sudah ngerubah mindset saya. Cara berpikir saya soal keuangan kemudian berubah. Beberapa hari yang lalu saya rasanya ingin membaca ulang bukunya yang berjudul The Business of the 21st Century.

Karena di buku ini beliau secara spesifik membahas mengenai network marketing. Bisnis asuransi Allianz pada dasarnya memiliki kemiripan dengan network marketing dalam beberapa hal. Robert T Kiyosaki merupakan pebisnis yang tidak memandang negatif network marketing, dan beliau secara nyata mengakui bahwa model bisnis seperti ini sangatlah efektif dan dapat diandalkan.

Selain Robert T Kiyosaki, saya juga menemukan bahwa Donald Trump juga memiliki pandangan yang sama, dan pandangannya tertulis dalam bukunya yang berjudul Why We Want You To Be Rich.

Rasanya senang sekali ketika menemukan pebisnis yang seperti ini, yang memang punya pandangan bahwa model bisnis network marketing itu memiliki potensi yang luar biasa besar dan sangat amat efektif.

Di artikel ini saya ingin berbagi beberapa kutipan yang ditulis oleh Robert T Kiyosaki mengenai bisnis network marketing. Saya harap dapat memberikan inspirasi dan semangat bagi Anda semua yang membacanya.

The size of your success is measured by the strength of your desire; the size of your dream; and how you handle disappointment along the way.

In anything, including Network Marketing, you are going to face rejection and tough days, will you stay the path or quit?

Jobs are a centuries-old concept created during the Industrial Revolution. Despite the reality that we’re now deep in the Information Age, many people are studying for, or working at, or clinging to the Industrial Age idea of a safe, secure job.

IF you are in a job you love, rock it and just build an additional income outside of that amazing job. If you don’t love what you do, shake it up, you aren’t stuck in the ground just yet.

If you want to go somewhere, it is best to find someone who has already been there.

One of the biggest concepts of Network Marketing: Duplication and modeling your mentors.

The idea of going to school and getting a job is the most destructive one in your brain.

Pretty scary that he considers that to be the MOST destructive one right?

The thing I always say to people is this: “If you avoid failure, you also avoid success”

The rich are those who play to win. The middle class plays not to lose.

This is why you should start a Network Marketing business part time, not jump into full-time.

I explain the law of compensation like this: “Returns are minimal in spite of massive effort at the start, yet returns can be massive with minimal effort over time”

People say “I want to be rich”. The question is, “Are you willing to do what it takes?”

When I started my last business, I didn’t receive a paycheck for 13 months. The average person can’t handle that pressure.

You can’t take care of charity unless you take care of yourself first.

Making money isn’t selfish or greedy, it creates options and YOU can choose what to do with that earned money.

Everything the working class has been told to do, the rich do not do. That is my message.

As long as you blame someone or something else – something outside you that’s bigger than you are – as the source of your problems, the problems won’t get solved.

People clinging to job security, savings, retirement plans, and other relics will be the ones financially-ravaged from 2010-2020, the most volatile world-changing decade in history.

Again, why not create an ADDITIONAL income stream? You certainly can.

Semoga kutipan dari Robert T Kiyosaki yang saya kutip dari buku buku nya tersebut dapat menginspirasi Anda semua untuk berani melangkah untuk memulai bisnis asuransi Allianz ini.

Gabung di Bisnis Asuransi yang bisa Memberikan ini

Jika Anda belum menemukan bisnis asuransi yang tepat, saya sarankan Anda untuk membaca artikel ini sampai selesai, karena Anda bakal dapetin insight yang sangat berharga.

Menemukan bisnis asuransi yang tepat itu seperti mencari jodoh, susah-susah gampang. Kadang ketika kita sudah bergabung menjadi mitra bisnis, eh ternyata sistemnya kurang oke, atau ternyata komisinya kurang menarik, atau ternyata leadernya tidak asik, dan lain-lain.

Itulah yang membuat banyak pebisnis memutuskan untuk berpindah dari satu perusahaan asuransi ke perusahaan  asuransi yang lain. Dengan harapan, perusahaan asuransi yang baru bakal lebih baik dari perusahaan sebelumnya.

Faktanya, kita tuh cenderung melihat “rumput tetangga jauh lebih hijau dari rumput kita”, dan ini berlaku bagi sebagian besar pebisnis yang belum sukses. Ingat ya, jika Anda belum pernah sukses menjalankan bisnis asuransi, maka Anda perlu berhati-hati karena keinginan Anda untuk pindah perusahaan jadi jauh lebih kuat ketika Anda belum pernah berhasil berbisnis Asuransi.

Anda berharap, dengan berpindah perusahaan asuransi, maka siapa tahu di perusahaan asuransi yang baru, Anda bisa lebih cepat sukses. Namun realitanya tidak demikian, Anda bakal melakukan hal yang sama lagi, yaitu berpindah perusahaan. Yang salah bukan perusahaannya, namun “mentalitas Anda” yang bermasalah.

Anda akan terus melihat perusahaan asuransi lain sebagai peluang yang lebih oke, dan akhirnya berpindah-pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya, inilah yang disebut “Shiny Object Syndrome.”

Mungkin sebelum Anda stay di sebuah perusahaan Asuransi, Anda sempat mengalami shiny object syndrome. Ketika itu Anda iseng membandingkan komisi satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Dan di tengah proses tersebut, Anda kemudian menemukan satu perusahaan asuransi yang oke banget.

Bonus yang didapatkan beraneka ragam, seperti traveling ke berbagai negara, bonus mobil, dan berbagai bonus menggiurkan lainnya. Hal itulah yang mendorong Anda ingin pindah. Selain itu, produk-produkny asuransi nya gampang banget dijual, meskipun menurut Anda tidak begitu bermanfaat, bahkan bisa jadi malah tidak ada manfaatnya sama sekali.

Hal-hal diataslah yang membuat Anda akhirnya pindah ke perusahaan asuransi tersebut, karena Anda berpikir, jika Anda pindah, maka Anda bisa menjual produknya dengan mudah, profit yang Anda dapatkan bisa berlipat-lipat, dan Anda juga bisa cepat dapetin berbagai macam bonus.

Tetapi seiring berjalannya bisnis tersebut, Anda merasa ada satu yang hilang, yaitu “Nurani Anda.” Setiap hari yang Anda pikirkan hanyalah “profit, bonus, profit, bonus” tanpa memperdulikan orang lain yang membeli produk asuransi yang Anda jual.

Tepatnya, Anda merasa jadi orang jahat. Saya menjual produk asuransi, namun saya sendiri menyadari bahwa produk asuransi tersebut tidak memberikan manfaat bagi orang lain. Yang Anda kejar hanya profitnya saja, tanpa memperdulikan orang lain.

Berbisnislah Dengan Hati

Di perusahaan asuransi Allianz yang saya geluti saat ini, saya merasa mendapatkan “ketenangan, karena saya tahu, meskipun saya tidak bisa mendapatkan bonus se-ekstrim mungkin seperti di perusahaan asuransi lainnya, namun saya yakin bahwa saya bisa membantu orang lain lewat produk-produk asuransi yang saya jual.

Saya tidak mau mencari untung hanya dengan menjual produk-produk  asuransi yang kurang bermanfaat, namun saat ini saya bisa menjual produk-produk asuransi Allianz yang memang 100% memberikan manfaat bagi banyak orang.

Istilahnya, ketika saya berbisnis, saya juga sekaligus beribadah, yaitu dengan membantu banyak orang. Hal itulah yang membuat saya tidak takut terus menjalankan bisnis asuransi Allianz seperti sekarang, karena saya tahu, saat ini saya menjalankan hal yang benar.

Nurani saya mengatakan bahwa saya sudah menjalankan hal yang benar, yaitu tidak semata hanya mencari untung, namun juga 100% membantu banyak orang.

Jadi jangan hanya berfokus pada profit saja. Ada perusahaan Asuransi yang menjual produk-produk asuransi yang sebetulnya tidak ada manfaatnya bagi orang lain, namun sangat mudah dijual. Memang sih, Anda bakal dapat banyak untung, namun bagi saya, hal itu justru salah.

Buat apa menjual produk asuransi yang kalau Anda sendiri tidak yakin bahwa produk tersebut bakal memberi manfaat bagi orang lain. Berbisnislah dengan hati. Pilihlah perusahaan asuransi seperti perusahaan asuransi Allianz yang memang sudah banyak membantu orang lain lewat produknya.

Fokus pada Bisnis Asuransi Anda Sendiri

Saya pernah menjalankan beberapa macam bisnis, beberapa bisa berjalan, namun justru banyak yang gagal. Bisnis pertama saya adalah Bisnis MLM, namun saya gagal disitu karena memang saya gabung karena terpaksa.

Setelah itu saya bekerja sebagai karyawan kantoran. Meskipun saya sudah mendapatkan pendapatan tetap dari perusahaan, namun dalam diri saya selalu muncul keinginan untuk menambah income stream lain lewat berbisnis.

Setelah membaca artikel-artikel bahwa kita bisa mendapatkan banyak uang lewat internet, lalu saya memutuskan untuk belajar internet marketing. Dan nggak sengaja saya menemukan sebuah forum internet marketing. Disana ada seseorang yang bercerita kisah suksesnya membangun blog dan mendapatkan pendapatan fantastis lewat Google Adsense.

Spontan dong, emosi saya meluap kegirangan. Saya kemudian mulai menjalankan beberapa blog sekaligus. Pengennya sih bisa sukses di bisnis ini. Beberapa bulan saya lalui, dan saya hanya mendapat $1 atau $2 dari blog saya. Bila dihitung-hitung sih, saya tetap rugi.

Selanjutnya saya melihat teman saya yang berhasil menjalankan Affiliate Marketing, dan kemudian tanpa basa-basi saya langsung ikut-ikutan menjalankannya. Lalu apakah saya berhasil di Affiliate Marketing?

Nggak juga. Karena seperti yang bisa Anda tebak, beberapa bulan kemudian saya pindah lagi ke bisnis yang lain. Siklus seperti ini terus berlangsung selama beberapa tahun.

Kadang saya pindah ke bisnis baru, kadang saya kembali menjalankan bisnis lama. Namun siklusnya tetap sama, saya terus berpindah-pindah mengejar peluang emas, atau istilahnya “Shiny Object”.

Kondisi diatas membuat saya terjangkit sebuah penyakit yang terkenal dengan sebutan, “Shiny Object Sindrome” yaitu Sindrom yang dapat dengan mudah mengalihkan perhatian Anda kepada hal-hal lain yang lebih menguntungkan atau istilahnya Shiny Object.

Intinya, ketika terjangkiti sindrom ini, Anda dapat dengan mudah teralihkan dari satu peluang, ke peluang emas yang lain, meskipun Anda belum berhasil di hal yang sedang Anda jalankan sekarang. Sebetulnya sindrom ini bukan hanya ada di bisnis saja loh, tapi juga pada hal-hal lain.

Contohnya, bila Anda sedang ingin menguruskan badan, dan kebetulan Anda menemukan buku OCD Diets. Lalu, beberapa minggu Anda menjalankan diet tersebut, dan memang sih berat badan turun sedikit.

Di sela-sela waktu Anda, kemudian Anda iseng-iseng browsing di internet, dan menemukan artikel tentang Ketogenic Diet, beserta beberapa testimoni orang-orang yang sudah berhasil menjalankan diet tersebut. Kemudian Anda berpikir, “Hmm, boleh nih, siapa tau berat badan gue bisa turun cepet dengan diet ini!” Dan besoknya Anda langsung stop diet OCD dan kemudian menjalankan diet ketogenic.

Cerita diatas sepertinya terkesan biasa, namun justru akan membentuk mental kita menjadi tidak baik. Karena dengan membiasakan hal tersebut, lama kelamaan kita nggak sadar bahwa kita ternyata sudah terjangkiti shiny object syndrome. Apa saja sih bahaya dari sindrom ini ?

1. Sulit berhasil dalam bidang apapun

Inilah yang saya alami sebelumnya. Bisa dikatakan saya nggak pernah berhasil. Karena apa? Karena saya terus berpindah dari satu peluang ke peluang yang lain, meskipun apa yang saya kerjakan saat ini belum berhasil.

Bagaimana bisa berhasil, lha wong belum berhasil saja saya sudah berpindah ke peluang yang lain. Gampang beralih ke peluang yang lain juga membuat Anda tidak fokus mengerjakan sesuatu.

Dengan kurangnya fokus, maka hasil yang Anda dapatkan juga tidak banyak, bahkan bisa jadi gak ada hasil sama sekali.

2. Tidak pernah belajar dan ditempa

Ketika menjalankan sesuatu dan Anda rasa belum mendapatkan hasil, yang harus Anda lakukan adalah “Keep Going.” Jangan berhenti, dan terus jalani, dan cari strategi lain sampai Anda berhasil. Sedangkan bila Anda terjangkiti sindrom ini, sudah pasti Anda akan langsung mencari peluang lain, karena Anda merasa belum mendapatkan hasil apapun.

Ini yang membuat Anda gak pernah belajar sesuatu. Belum mendapatkan hasil, bukan berarti Anda gagal. Gagal itu bila Anda stop menjalankan usaha Anda. Ketika Anda terus keep going dan gak menyerah menjalankan usaha Anda, maka sudah pasti Anda akan belajar banyak hal.

Anda akan belajar strategi lain. Anda akan belajar pantang menyerah. Anda akan belajar fokus. Anda akan belajar mindset yang benar. Dan lain sebagainya.

3. Mental instan

Inilah jenis mentalitas yang paling gak disukai, yaitu mentalitas instan. Mentalitas ini menurut saya paling bahaya, karena segala sesuatu harus didapatkan dengan instan. Dan mentalitas seperti ini lama kelamaan akan terbentuk ketika kita membiarkan shiny object sindrome menjangkiti pikiran kita.

Mau kurus, harus bisa instan. Mau hilang jerawat, harus bisa instan. Mau bisa bahasa inggris, harus bisa instan. Mau sukses bisnis, harus bisa instan. Padahal kenyatannya tidak demikian. Semuanya perlu proses.

Ketika menjalankan sebuah bisnis selama beberapa waktu dan belum berhasil, orang-orang yang terjangkiti shiny object syndrome akan berpikir bahwa bisnis mereka telah gagal. Dan ketika menemukan peluang baru, maka bisnis yang sekarang akan langsung ditinggalkan, dan kemudian mereka akan langsung mengejar peluang yang baru.

Dan siklus yang sama akan berlanjut di bisnis-bisnis berikutnya. Mengapa bisa demikian? Karena mereka ngga sabaran! Mereka berpikir bahwa membangun bisnis itu bisa dilakukan dengan instan dan tanpa usaha keras. Dan mental seperti itu sangat berbahaya, karena bakal membuat kita tidak akan pernah berhasil.

Lalu bagaimana untuk mengobati sindrom ini..

1. Hilangkan mentalitas instan

Seperti yang pernah disebutkan sebelumnya, bahwa “Mental instan” adalah mentalitas yang berbahaya. Oleh karena itu, mental inilah yang pertama kali harus dibenahi. Yang perlu Anda tanamkan di pikiran Anda adalah, bahwa untuk mendapatkan apapun itu, semuanya perlu proses, dan tidak bisa instan.

Bisnis itu seperti bayi, yang harus dijaga, dan dipelihara. Kita perlu mengeluarkan uang untuk membeli keperluan bayi kita, merawat nya dengan hati-hati, sehingga bayi kita ini bisa bertumbuh dan menjadi dewasa.

Demikian juga dengan bisnis. Bisnis  pun perlu perhatian dan perlakuan khusus. Kadang kita perlu mengeluarkan uang untuk memelihara dan memenuhi kebutuhan bisnis kita. Itu adalah hal yang wajar, karena kita ingin melihat bisnis kita terus bertumbuh menjadi bisnis yang dewasa.

Kadang kita merasa bahwa bisnis kita belum memberikan hasil apapun, namun terus tanamkan di pikiran kita bahwa, agar bisnis kita bisa bertumbuh, maka kita perlu waktu untuk memelihara dan menjaga pertumbuhannya.

2. Mulai dari apa yang ada

Shiny object syndrome biasanya membuat kita lupa dengan apa yang ada sekarang. Ketika ada peluang bisnis lainnya yang lebih menggiurkan, kita cenderung akan teralihkan dan meninggalkan apa yang sedang kita kerjakan saat ini.

Meskipun apa yang sedang kita jalankan belum memberikan hasil. Yang perlu Anda lakukan adalah terus fokus pada apa yang Anda kerjakan saat ini. Fokus dan “Keep Going”, sampai usaha Anda berhasil.

3. Lupakan segera

Bila ada peluang bisnis lain yang lebih menggiurkan menghampiri Anda, maka Anda perlu ingat kembali apa yang sudah Anda kerjakan di bisnism Anda saat ini. Berapa effort yang sudah Anda keluarkan untuk membesarkan “bayi Anda.” Bila memang peluang baru tersebut mengganggu Anda, maka “Segera lupakan.”

Mengejar peluang bisnis baru tidaklah salah. Tidak ada salahnya kita menambah income stream lainnya. Namun yang perlu diwaspadai adalah ketika kita “gampang sekali” teralihkan kepada peluang bisnis lain yang lebih menggiurkan, padahal kita belum berhasil mengerjakan apa yang ada di tangan kita saat ini.

Sindrom seperti ini akan membuat kita sulit berhasil dalam hal apapun, membuat kita tidak pernah belajar hal-hal baru, dan membentuk mentalitas kita menjadi mentalitas instan yang sangat berbahaya.

Yang perlu kita lakukan untuk mengatasi sindrom ini adalah dengan menghilangkan mental instan, dan mulai berpikir bahwa usaha yang kita kerjakan sekarang ini seperti usaha kita membesarkan bayi. Perlu waktu, perlu pengorbanan, perlu biaya, dan perlu perhatian ekstra.

Mari Menjadi Mitra Bisnis Asuransi Allianz dengan Membuka Cabang di Kota Andadaftar agen allianz

Telepon/SMS/WA: 08119292466