Faktor Penyebab Agen Asuransi Gagal

Dalam menjalani profesi/pekerjaan apapun, kadangkala kegagalan bisa saja terjadi. Tidak ada dalam kamus manapun misalnya jika 10 orang menjalani profesi tertentu maka semuanya akan berhasil.

Contoh dari 10 orang yang belajar menjadi seorang programmer, mungkin saja pada akhirnya yang benar benar berhasil menjalani profesi sebagai programmer yang sukses hanya segelintir saja katakanlah 2 orang sedangkan yang 4 orang lagi hanya menjadi programmer yang biasa biasa saja sedangkan sisanya akan berakhir dengan menjalani profesi lain di luar itu.

Contoh lainnya, misal dari 20 orang pengusaha/pebisnis yang merintis usaha dari 0, mungkin hanya 3 orang yang benar benar menjadi seorang pengusaha sukses, sedangkan sisanya ada yang hanya menjadi pengusaha yang biasa biasa saa dan bahkan mungkin ada yang akhirnya banting stir menjadi karyawan. Apakah Anda merasa familiar dengan fenomena seperti ini ?

Hukum kayak begini sepertinya berlaku untuk semua profesi dan pekerjaan termasuk juga bagi yang menjalani profesi sebagai agen asuransi. Pasti Anda merasa penasaran, sebenarnya apa sih yang menjadi faktor utama penyebab agen asuransi gagal dalam menjalankan profesi nya? Apakah menjadi seorang agen asuransi itu susah? Mari kita simak penjelasan di bawah ini mengenai faktor penyebab agen asuransi gagal.

Agen asuransi tidak / kurang mempunyai ketrampilan menjual.

Pada umumnya di beberapa perusahaan asuransi terjadi hal yang ironis. Para agen asuransi diajar ketrampilan penjualan oleh para trainer yang notabene bukan pelaku bisnis.

Tanpa bermaksud mengecilkan arti peranan trainer, tentunya akan lebih efektif bila peran pengajar yang berhubungan dengan skill penjualan dilakukan oleh para leader yang secara fakta mereka sudah terbukti adalah pelaku di lapangan. Sehingga apa yang diajarkan adalah merupakan pengalaman nyata, aktual, dan bukan sekedar teori belaka

Agen asuransi tidak mempunyai pengetahuan seputar bisnisnya.

Banyak team yang tidak mempunyai meeting berkala yang rutin. Dalih kesulitan mengumpulkan agen karena waktu yang tidak sesuai merupakan salah satu alasan utama nya. Padahal sesungguhnya team leader tidak mempunyai kompetensi untuk menyiapkan materi dan bahan yang akan disampaikan.

Kondisi demikian membuat agen tidak mempunyai wawasan dan pengetahuan yang cukup seputar bisnis yang digelutinya. Hal demikian membuat agen tidak percaya diri ketika masuk dalam proses memasarkan dan menangani keberatan nasabah.

Agen asuransi tidak mempunyai keinginan belajar.

Dengan tidak mempunyai sistematika pengajaran yang baik, membuat agen tidak mempunyai keinginan untuk belajar. Mereka tidak melihat manfaat dari belajar. Yang mereka rasakan adalah belajar itu membosankan. Bahkan ruang training adalah tempat yang paling dihindari.

Agen asuransi tidak berada pada atmosfir kompetitif.

Bila Anda berada dalam lintasan orang yang berjalan lambat, dan gerakan Anda sedikit lebih cepat dari lingkungan Anda, kadang membuat Anda merasa sudah lebih baik. Lain halnya bila lingkungan di sekeliling Anda berlari cepat. Maka mau tidak mau, juga akan berusaha lebih cepat karena Anda tidak ingin berada di barisan paling belakang.

Demikian juga dengan seorang Agen, bila berada di dalam team dan kantornya, teman teman yang lain melakukan aktivitas yang rendah, maka akan jadi kelihatan aneh bila dia sendiri beraktivitas tinggi.

Sebaliknya, bila suasana kantor dan team nya sudah terbiasa melakukan aktivitas dan pencapaian premi yang tinggi, maka secara otomatis hal itu akan melecut semangat si agen tersebut untuk bisa mengimbangi atau bahkan melampaui prestasi dari rekan rekan seperjuangannya.

Agen asuransi tidak disiplin.

Kata disiplin adalah kata yang tidak disukai oleh hampir banyak orang. Sehingga banyak leader takut melakukan atau mengajarkan kedisiplinan kepada para Agennya. Menciptakan kebiasaan disiplin banyak ragamnya. Dengan tidak disiplinnya Agen, otomatis sikap dan perilakunya akan menghambat kesuksesannya.

Agen asuransi tidak mempunyai track success.

Dengan tidak adanya track yang menuntun mereka, membuat Agen tidak mempunyai arah dan tujuan. Rutinitas melakukan prospek setiap saat, hanya mengejar komisi semata yang pada akhirnya akan membuat mereka cepat jenuh. Ketika mengalami hambatan di lapangan, hal itu akan membuat mereka cepat putus asa.

Itulah beberapa faktor penyebab agen asuransi gagal. Jika Anda ingin menjadi seorang agen asuransi yang berhasil maka Anda harus menghindari faktor penyebab kegagalan di atas. Anda bisa bergabung untuk menjadi agen asuransi Allianz di sini apabila Anda ingin diajar dan dibimbing hingga menjadi seorang agen asuransi yang handal dan sukses.

Portal Web untuk Agen dan Nasabah Asuransi

Dalam mengembangkan bisnis asuransi, maka akan sangat memudahkan bila perusahaan asuransi menyediakan fasilitas portal untuk para agen/mitra bisnis nya. Karena tanpa portal maka semua data akan dilakukan secara manual. Tentu saja hal ini menghambat laju pengembangan bisnis.

Dengan adanya portal maka semua data produksi, perhitungan kontes, data nasabah, proses SPAJ (Surat Pengajuan Asuransi Jiwa) bisa termonitor. Demikian juga dengan pembayaran premi nasabah.

Portal juga sangat membantu dengan adanya data nasabah dan data polis asuransi nya. Bila nasabah memerlukan informasi tentang polis asuransinya, maka kita bisa langsung memberi informasi ke nasabah tanpa harus menghubungi call center atau kantor sehubungan dengan data tersebut.

Perusahaan yang punya komitmen tinggi untuk berkembang pasti sudah memikirkan untuk memiliki portal, baik portal untuk agency maupun portal untuk nasabah. Di perusahaan asuransi Allianz, sudah tersedia portal seperti itu. Bahkan untuk agency termasuk para agen asuransi dan pebisnis asuransi, terdapat 2 buah portal yang disediakan oleh perusahaan yaitu ASN Portal dan Allianz Agency Connect.

Sedangkan bagi nasabah tersedia sebuah portal untuk mengecek polis asuransi nya secara online yaitu Allianz Eazy Connect. Baik ASN Portal, Allianz Agency Connect maupun Allianz Eazy Connect semuanya web based alias bisa langsung diakses lewat website.

Anda hanya tinggal memasukkan username dan password saja untuk login. Tidak perlu mendownload dan menginstal software tertentu ke dalam gadget Anda untuk dapat mengakses portal tersebut sehingga dimanapun Anda berada dan kapan pun  saja, Anda bisa mengakses portal tersebut.

Jika berbicara tentang teknologi, jujur boleh dikatakan kalau Allianz berada di depan jauh meninggalkan pemain lainnya. Ini bisa dilihat dari kemajuan dari IT yang telah diterapkan di berbagai sisi tidak hanya untuk mendaftarkan nasabah baru tetapi juga pada saat mensubmit klaim, juga semuanya bisa dilakukan lewat portal. Tidak perlu lagi yang namanya mengirimkan berkas secara hardcopy.

Hal ini bukan hanya membuat nasabah mendapatkan sebuah pengalaman berasuransi yang baru dan modern serta futuristik namun juga membuat pekerjaan sebagai agen asuransi Allianz juga semakin mudah. Alur klaim menjadi demikian sederhana.

Sehingga para agen asuransi di Allianz tidak perlu banyak menghabiskan waktu untuk mengurusi klaim nasabah sehingga mereka bisa lebih fokus di kegiatan pemasaran dan pengembangan bisnis. Jika salah satu alasan yang menghambat Anda untuk menjadi seorang agen asuransi adalah karena Anda takut untuk mengurusi klaim dari nasabah Anda maka di Allianz, hal ini tidak perlu Anda kuatirkan lagi.

Dengan teknologi terdepan yang diterapkan di sini, semua proses kerja seorang agen asuransi menjadi sangat mudah. Semua informasi yang Anda ingin dapatkan tentang nasabah Anda, bisa langsung diakses lewat portal web baik itu ASN Portal maupun Allianz Agency Connect.

Bahkan untuk masalah klaim asuransi kesehatan nasabah bisa Anda bantu submit langsung melalui porta Allianz Agency Connect. Sedangkan untuk nasabah, mereka bisa mencoba untuk melakukan klaim asuransi kesehatan langsung melalui Allianz Eazy Connect apabila mereka mau melakukan klaim secara reimburse.

Sebenarnya di Allianz, untuk asuransi kesehatan sudah difasilitasi dengan manfaat cashless menggunakan kartu sehingga apabila ada nasabah yang dirawat di rumah sakit rekanan/jaringan Allianz maka secara otomatis biaya selama dia dirawat akan langsung ditalangi oleh Allianz tanpa perlu si nasabah membayar sendiri dengan uang pribadi nya.

Namun jika si nasabah menjalani perawatan opname di rumah sakit non rekanan/jaringan Allianz maka tetap sistemnya dengan cara reimbursement dimana nasabah harus membayar ke pihak rumah sakit terlebih dahulu untuk biaya perawatannya baru kemudian melakukan reimburse ke Allianz.

Cara reimburse ini yang sederhana dan sangat mudah karena bisa langsung memanfaatkan portal web baik Allianz Eazy Connect maupun Allianz Agency Connect.

Apabila Anda ingin menjadi bagian dari Allianz dan Anda juga penasaran untuk mengetahui seperti apa portal web yang telah disediakan oleh perusahaan Allianz serta Anda ingin menjajal ASN Portal maupun Allianz Agency Connect maka Anda bisa mendaftar untuk menjadi agen asuransi Allianz di sini. Anda akan dibimbing sampai Anda mahir menguasai skill yang Anda perlukan untuk berhasil di bisnis ini.

Kuasai Skill Sukses di Bisnis Asuransi

Selama ini kita sebagai Agen Asuransi selalu melakukan pekerjaan kita yang kodratnya mencari nasabah. Mulai proses menghubungi, bertemu, dan menanamkan kepercayaan supaya closing. Namun coba sejenak kita membayangkan bila kita yang menjadi incaran Agen Asuransi. Nama dan nomer ponsel kita ada dalam daftar nama mereka.

Bersikap Ramah

Rasanya wajar bila seorang prospek akan memberi waktu pada seorang agen asuransi yang awalnya tidak dikenal, namun saat menelepon atau menghubungi mereka, si agen asuransi tersebut mampu untuk membuat si prospek merasa cepat akrab. Seakan akan sudah lama tidak bertemu teman lama. Saat ketemu juga si agen tersebut langsung mampu membuat si prospek nyaman untuk ngobrol. Bahkan seakan akan bukan seperti orang yang baru dikenal.

Berpikiran Logis

Memberikan solusi logis saat presentasi tanpa harus menjelekkan perusahaan asuransi lain. Kadangseorang prospek malah tidak simpatik melihat seorang Agen Asuransi yang banyak menyudutkan kompetitornya dan bahkan tanpa sadar menjelekkan personil atau oknum dari perusahaan asuransi lain. Akhirnya membuat si prospek kehilangan respek pada si Agen Asuransi tersebut.

Menguasai Produk

Menguasai produk asuransi dengan baik dan dapat menjawab pertanyaan seputar produk dengan jelas merupakan hal yang paling penting. Karena itu mempelajari product knowledge dari produk asuransi yang dijual merupakan suatu keharusan. Pengetahuan tentang produk wajib karena jangan sampai informasi yang diberikan pada calon nasabah malah sesat.

Karena banyaknya Agen Asuransi yang menjelaskan produknya semanis gula, namun saat klaim malah menjadi masalah. Hal ini yang biasanya membuat calon nasabah pada umumnya menjadi kuatir dan lebih waspada. Calon nasabah awam banyak yang tidak mengerti dengan banyak nya klausul perusahaan Asuransi yang beragam.

Maka penjelasan Agen asuransi di awal sangat dibutuhkan. Karena sejujurnya biasanya nasabah juga  malas membaca buku polis asuransi yang tebal. Bahkan banyak nasabah yang membeli polis asuransi namun kemudian lupa atau tidak tahu apa yang dia beli.

MUDAH DIHUBUNGI

Nasabah memerlukan Agen Asuransi yang mudah dihubungi. Jangan ketika masih dalam tahap menawarkan asuransi, Agen tersebut sangat mudah dihubungi. Bahkan sering yang mengawali kontak dengan calon nasabah. Baik menelepon langsung, atau hanya lewat chat. Namun ketika sudah menjadi nasabah, malah si agen asuransi sangat susah dicari. Seperti hilang lenyap tanpa jejak.

Sebagai agen asuransi profesional, jangan sampai di telepon tidak pernah diterima bahkan di call back pun tidak, di chat gak pernah dibaca. Atau kalau dibaca pun baru beberapa hari kemudian. Lebih menjengkelkan lagi, sudah dibaca tapi tidak direspon. Apalagi di email. Balasannya malah menyarankan kita untuk menghubungi Customer Service.

Jika Anda punya mental bencong seperti ini, mending Anda mundur jauh jauh dari profesi agen asuransi ini daripada Anda menjelekkan profesi agen asuransi ini di mata masyarakat.

Tahu Kewajibannya

Tentu saja yang setiap nasabah sangat mengharapkan agen asuransi yang siap membantu saat ada klaim atau untuk hal hal tertentu yang membutuhkan bantuan agen asuransi sehubungan dengan polis Asuransi. yang dimiliki nya.

Kadang agen asuransi bisa membantu dalam hal hal kecil, misalnya mengingatkan saat jatuh tempo premi agar nasabah tidak lupa untuk melakukan pembayaran.

Memang perusahaan Asuransi kebanyakan sudah menggunakan reminder baik dalam bentuk SMS atau email. Namun bila Agen asuransi yang mengingatkan, bagi nasabah ada perasaan yang berbeda seperti ada rasa tanggung jawab.

Komitmen dalam Menjalankan Profesi

Suatu ketika teman saya pernah diprospek oleh salah satu Agen asuransi yang dikenalkan oleh temannya. Ketika ditanya sudah berapa lama jadi Agen Asuransi, dia malah menjawab bahwa dia masih baru dan masih coba coba.

Jawaban si agen itu tanpa sadar atau sadar, membuat teman saya itu memutuskan untuk tidak jadi membeli polis asuransi dari nya. Kekuatirannya adalah bagaimana kalau si agen asuransi itu hanya coba coba dan kemudian pindah pekerjaan. Maka nantinya jika ada masalah apa apa dengan polis asuransi teman saya itu maka siapa yang akan membantu?

Kira kira itu semua adalah skill yang diperlukan agar Anda bisa menjadi agen asuransi yang handal. Termasuk jika Anda mau menjadi agen asuransi Allianz yang profesional di grup ini.

Bangga Menjadi Agen Asuransi Allianz

Bila kita bertemu dengan sekelompok anak kecil, usia anak TK atau anak SD, dan kita bertanya apa cita cita mereka? Ada yang menyebut Dokter, Arsitek, Polisi, Pilot…dan sejumlah profesi lainnya. Tetapi anehnya tidak ada yang mengatakan, saya ingin menjadi Agen Asuransi.

Sejak awal memang sudah disadari bahwa profesi sebagai agen asuransi jiwa adalah profesi yang tidak membanggakan. Bahkan cenderung boleh disebut profesi yang memalukan. Seakan akan, sudah tidak ada tempat di pekerjaan yang lain, maka jalan terakhir adalah menjadi agen asuransi jiwa.

Bahkan bila seseorang yang dulunya seorang wiraswasta, entah itu pengusaha depot, pengusaha toko, atau profesional semacam arsitek, dokter, guru musik, bila akhirnya masuk dunia bisnis asuransi jiwa dan berprofesi sebagai agen asuransi jiwa, maka lingkungan, kolega, atau keluarganya menganggap bahwa usahanya bangkrut atau gagal.

Sehingga sampai hari ini, bila saya berjumpa teman yang bekerja di bank, apalagi bank ternama atau asing, ketika ditanya kerja dimana, dia akan berkata tegas, atau berjabat tangan tegas, menyebut nama institusinya dengan penuh percaya diri. Mereka sangat bangga dengan profesi mereka. Ditunjang dengan dukungan moral yang diberikan teman, lingkungan, dan keluarganya.

Lain bila saya berjumpa dengan banyak agen asuransi jiwa, khususnya yang pemula atau junior. Ketika ditanya orang, kerja dimana? Maka mereka akan dengan malu malu menyebutkan nama perusahaan asuransinya, tapi ditambah dengan penjelasan kalau mereka sebenarnya masih coba coba, masih membantu teman, atau sejumlah alasan lain yang menunjukkan ketidak percayaan diri terhadap profesinya.

Itulah fakta dan kenyataan yang terjadi di kehidupan kita. Ditambah dengan bagaimana keluarga yang tidak mendukung suami, istri, adik, atau anaknya ketika memilih untuk masuk dunia bisnis asuransi jiwa. Mereka beranggapan bahwa bisnis di asuransi jiwa itu adalah bisnis yang tidak tetap penghasilannya dan tidak punya masa depan. Bahkan banyak yang beranggapan bahwa profesi ini banyak menipu orang lain. Paradigma yang salah inilah yang masih diikuti oleh masyarakat kita.

Mereka tidak tahu, bahwa sebagai agenasuransi jiwa itu mempunyai tugas yang sangat mulia. Membuat setiap keluarga mempunyai perlindungan financial, dan berbagi resiko kepada pihak lain.

Berapa banyak yang kita tahu, bahwa banyak keluarga yang ditinggalkan oleh sumber penghasilannya, baik bapak atau ibunya, atau bahkan pasangannya (suami atau istri nya) sehingga anak anak nya jadi tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi atau tidak bisa meneruskan ke sekolah yang diidamkan, dan terpaksa masuk ke sekolah atau jurusan yang tidak sesuai dengan keinginannya karena faktor biaya.

Berapa banyak keluarga yang harus jatuh miskin atau berhutang, akibat salah satu dari anggota keluarganya yang menderita sakit kritis yang berkepanjangan.

Atau berapa banyak orang tua yang pada masa tuanya, ketika mereka sudah pensiun dari pekerjaannya, harus menggantungkan hidupnya pada anak anak. Mereka tidak mempunyai tabungan yang cukup untuk membiayai hidup mereka saat tidak bekerja lagi. Ironisnya pada saat yang sama, anak anak mereka juga harus memikirkan pengeluaran keluarga dan sekolah anak anaknya.

Kenyataan hidup di atas terjadi karena pada saat yang lalu mereka tidak mempunyai perencanaan keuangan keluarga, atau yang lebih tepatnya mereka tidak mempunyai polis asuransi jiwa.

Justru dengan kehadiran agen asuransi jiwa lah yang pada akhirnya akan membuka mata hati dan pikiran banyak keluarga di Indonesia, agar mereka mengerti pentingnya memiliki program perencanaan keuangan bagi keluarganya.

Para agen asuransi kadang harus menerima penolakan dari yang paling halus, sampai penolakan yang cenderung kasar seakan akan mereka hanya mengejar komisi semata, sehingga harus bermuka tebal. Padahal sejatinya mereka mempunyai tujuan yang mulia yaitu yang menjual sesuatu yang sangat bermanfaat bagi setiap keluarga yaitu proteksi penghasilan atau proteksi income.

Kalau masyarakat masih memandang profesi kita dengan sebelah mata, artinya masih meremehkan, sekalipun apa yang kita lakukan semua semata mata demi manfaat jangka panjang bagi yang membelinya. Maka tidak ada alasan lagi, bahwa kita semua harus mendapat penghasilan di atas rata rata dibanding profesi lainnya.

Saya sering mengatakan, bila kita masuk di bisnis asuransi jiwa maka tidak ada alasan untuk kita tidak sukses. Dan bila penghasilan kita, setelah berbisnis lebih dari 1 tahun, hanya berada di kisaran Rp. 2 hingga 3 juta, (tanpa bermaksud mengecilkan nominal tersebut) Anda boleh tinggalkan bisnis ini. Karena kalau hanya di kisaran angka tersebut, masih banyak profesi lain yang bisa memberikannya. Oleh karena itu, dengan menjadi agen asuransi, Anda harus kaya, tidak ada pilihan lain.

Jadi tentukan impian Anda, tentukan waktunya, dan bila melalui profesi yang lain hal tersebut susah atau tidak mungkin diraih, maka jalankan dengan tekun bisnis asuransi jiwa. Percayalah Anda pasti bisa meraih impian Anda di bisnis ini.

Jika Anda ingin terjun di bisnis asuransi yang memiliki sistem yang bagus, produk yang bagus, dan perusahaan nya juga bagus maka Anda bisa bergabung untuk menjadi mitra/agen di bisnis asuransi Allianz. Kami sedang mencari mitra/agen di seluruh daerah di Indonesia. Jadi dimanapun domisili Anda sekarang, kesempatan Anda sangat terbuka lebar untuk menjajal profesi ini.

Anda Sendiri yang Menentukan Keberhasilan Anda

Sering dalam obrolan warung kopi antara agen satu dengan agen yang lain yang dibicarakan bukan gosip artis, tapi justru banyak membicarakan soal Leader masing masing. Kalau ada pepatah yang mengatakan ‘rumput tetangga lebih hijau’ di sinilah pengertian itu didapatkan. Banyak Agen merasa tidak puas dengan Leadernya, dan merasa Leader orang lain lebih baik, lebih sabar, lebih pengertian, dan serba lebih yang lainnya.

Leader dalam bisnis asuransi agak berbeda fungsinya bila dibandingkan dengan fungsi Leader di institusi keuangan lainnya. Leader di sini bukan bos Anda atau sekedar pemimpin team. Leader di dunia agency asuransi menjadi partner kerja Anda. Yang berfungsi menjadi pembimbing Anda. Bahkan setiap Leader punya cara sendiri dalam menghandle teamnya.

Seperti orang tua, mereka punya cara masing masing untuk mendidik anak anak mereka. Ada orang tua yang terbuka dan lebih sabar dalam menghadapi anak anaknya. Namun ada juga orang tua yang dalam prinsip pendidikannya mengedepankan kedisiplinan.

Kadang anak bisa merasa iri atas sikap orang tuanya yang lebih baik kepada anak tetangga daripada anaknya sendiri. Tapi yang jelas setiap orang tua selalu menginginkan yang terbaik buat anak anaknya.

Demikian juga yang terjadi dalam dunia agency asuransi. Sering ada agen merasa tidak puas terhadap Leadernya. Sebagai Agen, perlu Anda ketahui, bahwa pada dasarnya setiap Leader tidak ada yang sempurna.

Sekalipun banyak workshop dan training tentang Leadership yang diajarkan, namun pilihan sikap dalam menangani team lebih banyak dipengaruhi oleh cermin pengalaman hidup mereka dan bagaimana mereka dahulu dididik oleh Leader mereka sebelumnya. Makin dewasa dan makin banyak pengalaman leadernya, maka makin matang mereka dalam bersikap dan mengambil keputusan.

Menjadi Agen kerjaan Anda bukanlah membandingkan antara Leader yang satu dengan Leader yang lain. Namun jadikan semua pelajaran, karena suatu hari nanti, Anda semua juga akan menjadi Leader, dan menjadi pemimpin team Anda.

Di situ Anda semua akan merasakan bagaimana memimpin, menangani sebuah team dengan keaneka ragaman latar belakang, pendidikan, usia, budaya keluarga, dan perbedaan lainnya. Memimpin dalam bisnis asuransi ini bukan layaknya Bos yang memerintah karyawannya.

Karena Leader disini memimpin para partner kerjanya. Kemampuan komunikasi menjadi hal yang utama dalam memimpin team. Memperlakukan agen yang satu bisa berbeda cara perlakuannya dengan agen yang lain.

Keinginan dan harapan Anda mempunyai Leader yang ideal, itulah cermin yang harus Anda lihat terhadap diri Anda. Semakin ideal Leader yang Anda harapkan, maka tuntutan itu menjadi cermin Anda. Sehingga suatu ketika saat Anda menjadi seorang Leader, Anda harus mempunyai kriteria seperti yang Anda harapkan.

Leader dalam bisnis asuransi haruslah mempunyai 4 kemampuan utama. Apa saja itu?

  1. Memiliki KETRAMPILAN (skill), baik menjual atau merekrut.

Pada dasarnya memasuki bisnis asuransi haruslah melakukan 2 pekerjaan. Jual dan rekrut (Selling and Recruiting). Tanpa 2 aktifitas ini tidak ada bisnis asuransi. Oleh karena itu seorang Leader harus mampu melakukan ke dua hal ini. Pengalaman menjual dan merekrut yang membuat seorang Leader mengerti siklus penjualan dan perekrutan termasuk bagaimana menghadapi beragam prospek dan bagaimana rasanya ditolak. Pengalaman ini penting waktu melakukan konsultasi kepada agen.

2. Keterampilan akan semakin sempurna bila seorang Leader mempunyai PENGETAHUAN yang baik tentang asuransi, keuangan, dan bisnis pada umumnya.

Pengetahuan yang luas akan membantu memberikan wawasan kepada para agen dari berbagai sudut pandang yang beragam. Pengetahuan lebih mudah diperoleh dari pada ketrampilan. Ketrampilan didapat dari pengalaman dan jam terbang yang tidak dapat dibeli. Namun pengetahuan bisa didapat dari membaca.

Sebagai Leader membaca sudah bukan lagi merupakan sebuah hobby, melainkan sudah harus menjadi kebutuhan. Dari kebutuhan akan meningkat menjadi kebiasaan.

Membaca adalah hal yang paling mudah dari ‘mencuri’ pengalaman penulisnya. Isi sebuah buku atau artikel adalah isi pikiran dan pengalaman penulisnya. Pengalaman bertahun tahun penulis, tanpa Anda harus mengalami, bisa Anda peroleh dengan membaca, bahkan memberikan sebuah inspirasi baru dalam bisnis dan kehidupan Anda.

Seperti yang kita ketahui bersama, dalam bisnis asuransi ini, setiap orang haruslah punya semangat yang terjaga. Bisnis asuransi adalah produk yang senantiasa harus dijual, sehingga menjadi bisnis yang banyak mengalami penolakan. Hukum rasio terjadi dalam bisnis ini. Semakin banyak prospek, otomatis semakin banyak ditolak, tetapi juga akan semakin banyak closing. Tidak setiap orang mempunyai ketahanan akan penolakan yang sama kuatnya.

3. Maka sebagai Leader dibutuhkan kemampuan untuk menjadi MOTIVATOR.

Menjadi motivator tidak harus berteriak teriak dihadapan banyak orang. Menjadi motivator artinya mampu membangkitkan agen disaat agennya dalam keadaan down. Oleh karena itu sebagai Leader haram hukumnya untuk kelihatan loyo di depan teamnya.

Untuk bisa memotivasi orang lain, diri sendiri harus selalu termotivasi. Menjadi motivator harus selalu berpikir positif. Karena dengan berpikir positif setiap orang memiliki harapan. Dengan memiliki harapan maka semangat akan tetap akan berkobar. Maka api yang menyala dalam diri Leader haruslah ditularkan kepada teamnya. Baik dalam bentuk kata kata, maupun dengan sikap.

Bisnis asuransi adalah termasuk bisnis yang unik. Karena mengelola bisnis manusia. Bisnis manusia sangat rawan dengan konflik karena beragam latar belakang bercampur menjadi satu.

4. Kekuatan Leader disini sebagai pemersatu dengan mempunyai kekuatan HUBUNGAN (relationship).

Banyak Leader yang pandai dalam ketrampilan maupun pengetahuan, namun gagal memimpin team karena tidak pintar dalam membina hubungan. Namun sebaliknya banyak Leader yang jauh dari pandai, namun bisa bertahan hanya karena mempunyai kekuatan dalam membina hubungan.

Bentuk perhatian jadi hal yang utama dalam membina hubungan. Karena pada dasarnya setiap manusia membutuhkan perhatian. Perhatian tidak melulu pada bisnis. Perhatian bisa meliputi hal hal pribadi seperti masalah keluarga. Bahkan seorang leader bisa menjadi tempat curahan hati. Seorang Leader kadang juga berfungsi sebagai psikolog yang siap menampung air mata dan isak tangis.

Namun sebaiknya curhat atau konsultasi ini tidak dilakukan secara empat mata antara leader dengan agennya yang berlainan jenis (apalagi jika keduanya atau salah satu nya telah menikah dan berkeluarga) demi menghindari hal hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Ini juga lah yang menjadi alasan mengapa sebaiknya bisnis asuransi ini bisa dijalankan bersama sama oleh suami istri. Sehingga jika ada agen perempuan yang ingin konsultasi maka bisa dilayani oleh istri nya leader (jika leadernya pria), demikian pula sebalik nya.

Melihat beberapa kemampuan yang wajib dimiliki oleh seorang leader di atas, sepertinya tidak mudah ya untuk menjadi seorang Leader. Tidak ada seorangpun yang mempunyai kemampuan yang sama sama menonjol.

Ada yang mempunyai kekuatan di ketrampilan dan pengetahuan, namun agak lemah sebagai motivator dan membina hubungan. Sebaliknya ada yang kuat dalam membina hubungan, namun ketrampilan dan pengetahuan nya hanya rata rata.

Seorang Leader bekerja dengan hati dan pikirannya. Bukan bekerja dengan egonya. Leader yang bekerja dengan ego akan sangat membutuhkan penghormatan. Mereka akan merasa mudah untuk sakit hati bila tidak dihargai dan merasa dilecehkan bila dilangkahi.

Leader yang bekerja dengan hati akan berbekal ketulusan, tidak akan minta dihargai. Karena penghargaan adalah wujud penghormatan bukan etika yang dipaksakan. Belajar menjadi Leader menuju jenjang yang lebih tinggi, bukan dalam wujud menerima penghargaan, namun dalam wujud pengakuan sebagai LEADER SEJATI.

Bagi saya pribadi, seorang LEADER SEJATI bukan jabatan dalam struktur Agency. Seorang Business Partner, Senior Business Partner atau MDIT  (Sebutan untuk level tertentu di bisnis asuransi Allianz) sekalipun bukan berarti otomatis dia menjadi menjadi LEADER SEJATI. Bukan juga karena ukuran berapa lama dia telah berkecimpung di bisnis asuransi ini.

Seorang LEADER SEJATI haruslah memiliki ‘pengikut’ sebagai team yang solid. Kemanapun LEADER SEJATI MELANGKAH maka teamnya akan ikut serta. Keputusan yang diambil oleh LEADER SEJATI selalu dihargai oleh teamnya. Sehingga LEADER SEJATI melangkah kemanapun, maka teamnya akan ikut serta.

Banyak orang mengaku sebagai Leader, mengaku punya banyak pengalaman, namun ketika melangkah tidak satupun yang diakui sebagai teamnya ikut serta. Kenyataan seperti inilah yang menguji apakah seseorang layak dianggap sebagai seorang Leader Sejati atau tidak.

Dan yang paling penting, seorang LEADER SEJATI bekerja dengan hati dan ketulusan untuk menciptakan orang orang sukses. Seorang LEADER SEJATI tidak takut bersaing dengan teamnya. Karena dia bekerja bukan dengan ego. Parameternya berapa banyak seorang LEADER SEJATI telah menghasilkan orang orang sukses.

LEADER SEJATI adalah pencetak generasi penerus sebagai LEADER SEJATI BERIKUTNYA, yang membuat orang sekelilingnya menjadi sukses. Orang orang sukses itu dalam kesaksiannya selalu menyebut nama LEADER SEJATI sebagai orang yang berpengaruh dalam kesuksesan dirinya.

Melangkahlah untuk menjadi seorang Leader seperti harapan Anda terhadap Leader Anda. Ketidak sempurnaan Leader Anda saat ini, bukanlah alasan Anda untuk mencari Leader baru. Seorang Leader ibarat orang tua Anda, yang tidak bisa digantikan oleh orang tua lain. Keramahan orang tua lain terhadap Anda kadang bukanlah wujud ketulusan.

Tetap fokus pada arah impian Anda, dan bergeraklah maju apapun yang terjadi, untuk menjadi LEADER SEJATI, see you at the top.

Jenjang Karir Agen Asuransi Allianz

Suatu saat secara tak terduga saya bertemu dengan teman lama yang seingat saya sudah lebih dari 5 tahun bekerja di sebuah perusahaan asuransi sebagai mitra/agen.

Dan yang saya tahu, setiap tahun dia selalu mendapat penghargaan trip ke luar negeri, bahkan hampir selalu mendapatkan 2 tiket, sehingga dia selalu mengajak suaminya untuk menikmati bonus yang diterimanya.

Dalam perbincangan itu akhirnya masuk dalam topik seputar bisnisnya. Saya cukup terkejut, ketika ternyata dia masih di posisi sebagai agen (FC), jenjang paling dasar dalam struktur karier. Ketika saya tanya, kenapa dengan omzet yang bagus, harusnya dia saat ini menjadi Agency Manager, jenjang di atas FC.

Struktur karier di perusahaan asuransi tersebut ada 4 level, dari FC (Financial Counsellor) – AM (Agency Manager) – SAM (Senior Agency Manager) – AD (Agency Director).

Yang menarik ketika dia menjawab, “wah, aku ga pingin jadi AM, susah rekrut dan ngatur orang. Enak begini aja, aku jual sendiri. Karena gak gampang jadi AM, harus bantuin agennya, belum lagi kalau agennya susah diatur…”

Di saat yang lain, ketika di suatu kesempatan saya berjumpa seorang AM (Agency Manager), yang saya tahu juga telah lebih dari 5 tahun di posisi yang sama. Dan saya tahu juga, premi collected dari teamnya lebih dari 1 M per tahun. Demikian juga setiap tahun selalu meraih trip ke luar negri bersama pasangannya.

Saya mengajukan pertanyaan yang serupa, kalau dari sisi pencapaian premi yang diisyaratkan, harusnya memenuhi syarat untuk promosi menjadi SAM (Senior Agency Manager), mengapa tidak naik jenjang?

“Di sini, posisi AM adalah posisi yang paling strategis dari overiding, buat apa saya harus jadi SAM, yang selisihnya gak banyak. Menjadi AM lebih enak, kalau agennya susah diatur, ya saya jual sendiri, toh overidingnya cukup besar….capek ah jadi SAM…”

Rasa penasaran saya semakin bertumpuk. Maka ketika ada kesempatan, bisa jumpa salah satu SAM terbaik, dan sudah lebih dari 5 tahun juga di posisi yang sama. Setelah berbincang santai, maka pertanyaan yang sejenis saya ajukan.

Kenapa dengan pencapaian setiap tahun yang harusnya bisa promosi menjadi AD, tapi tidak mengajukan promosi ?

“Selisih overiding SAM dan AD tidak beda jauh. Dan kerepotan mengurus admistrasi di kantor pusat sangatlah ribet. Mending saya di SAM aja, dan AD saya yang mengurus hal hal itu. Dan tanggung jawab sebagai AD kan berat, harus mempertanggung jawabkan target.”

Ternyata yang sangat membuat saya terheran heran adalah dari FC, AM, dan SAM mempunyai alasan yang hampir sama untuk tidak naik jenjang. Yang jadi pertanyaan saya, dari manakah pola tersebut ada dalam pikiran mereka? Siapa yang memasukkan pola pemikiran seperti itu?

Ibarat seorang anak remaja yang takut ketika berada di kegelapan. Anak remaja tersebut selalu membayangkan hantu, atau hal hal negatif lainnya. Tentunya hal ini selalu ada yang memprogram sistem pola pemikirannya.

Bisa jadi orang tua anak tersebut, yang saat masa kecilnya dengan sengaja atau tidak sengaja telah menakuti si anak dengan cerita hantu dengan maksud agar anak tersebut menjauh dari tempat yang gelap. Namun tanpa disadari cerita negatif tersebut tertancap dalam pikiran bawah sadarnya dan terbawa hingga dewasa.

Demikian juga situasi yang terjadi dalam karier bisnis asuransi jiwa. Banyak kata kata atau kalimat yang sepertinya memberi gambaran situasi yang menyulitkan ketika seseong naik jenjang. Berbagai problem dan masalah sepertinya menjadi hambatan dan membuat ketakutan bagi orang yang ingin naik jenjang.

Sehingga dari level atas menahan laju level di bawahnya. Demikian seterusnya sehingga gerbong promosi menjadi seakan tidak bergerak. Seseorang bisa di level FC dalam kurun waktu yang lama. Demikian juga level menengah tidak berambisi untuk naik ke jenjang berikutnya.

SIAPA YANG SELAMA INI MEMASUKKAN PEMIKIRAN TERSEBUT KE MASING MASING LEVEL?

Situasi ini bisa terjadi karena sistem dalam perusahaan asuransi tersebut memang tidak mendukung adanya promosi. Kenapa demikian? Bila seorang AD melahirkan atau mempromosikan SAM nya menjadi AD, maka dia berhak atas bonus promosi dari omset AD yang dipromosikan. Tapi sejauh mana hal tersebut bisa memberi jaminan income terhadap kelangsungan bisnisnya.

Karena AD tersebut, ketika SAM nya promosi, maka seluruh team SAM itu dibawa menjadi team AD baru. Berarti AD yang lama harus membangun, merekrut, membina team baru lagi. Begitu seterusnya.

Bahkan usia AD  yang lama tersebut tentunya sudah tidak muda lagi. SI AD lama sampai tua renta tetap harus mempertahankan posisi untuk tetap aman, agar tidak didemosi akibat tidak tercapainya target.

Sistem seperti inilah yang membuat, secara sadar atau tidak sadar seorang leader dalam alam bawah sadarnya, tidak menginginkan team di bawahnya promosi ke jenjang yang sama dengan dirinya. Dan situasi ini berlanjut dari generasi ke generasi.

Namun apabila suatu saat pada akhirnya SAM tersebut promosi menjadi AD baru, oleh karena kesadaran sendiri, atau atas dukungan perusahaan asuransi yang menginginkan pertumbuhan AD baru. Maka akan tercipta suasana yang tidak harmonis, antara AD LAMA dan AD BARU. AD BARU tentu saja membawa teamnya. Dan di situasi ini AD LAMA akan kehilangan teamnya.

AD LAMA berpikir bahwa SAM nya tidak loyal, dan lupa kacang akan kulitnya serta lupa akan jasanya yang telah mendidiknya sejak dari awal. Sedangkan AD BARU berpikir, apakah seumur hidup harus bergabung dengan AD lamanya. Sudah saatnya dia berpikir untuk mandiri.

Dengan adanya pola berpikir yang berbeda, tentunya menimbulkan suasana yang pasti tidak harmonis. Yang ujung ujungnya nya bisa saling bermusuhan.

Siapa yang salah dalam hal ini ? Mereka tidak ada yang salah, namum sistemlah yang memaksa mereka yang bertindak dan berpikir seperti itu.
APAKAH KITA SEMUA TETAP MAU BERADA DI SISTEM YANG SALAH? Kalau Anda cinta dengan profesi Anda, cobalah membuka cakrawala mata dan pikiran, untuk merenungkan hal ini semua.

Di Allianz, Anda tidak akan menemukan sistem bisnis seperti ini. Jenjang karir Agen Asuransi Allianz adalah yang Paling Simpel di antara semua perusahaan asuransi yang ada di Indonesia. Hanya ada 2 jenjang yaitu Business Executive (BE) dan Business Partner (BP).

Saat Seorang BP berhasil mempromosikan BE nya menjadi BP yang akhirnya selevel dengannya, BP lama akan mendapatkan bonus royalti dari total omset yang dihasilkan oleh BP baru nya. Dan bonus royalti ini bisa dinikmati sampai 5 generasi kedalaman BP.

Sehingga kalau di bisnis Allianz, tidak ada alasan seorang BP untuk menghambat BE nya untuk promosi dan juga tidak ada alasan bagi seorang BE untuk tidak mau cepat cepat promosi menjadi BP.

Dengan menjadi BP maka dia akan menerima tambahan komisi overriding yang berasal dari penjualan pribadi yang dia lakukan sendiri maupun penjualan yang dilakukan oleh BE BE di bawah nya.

Profesi Agen Asuransi Dahulu dan Sekarang

Profesi agen asuransi merupakan sebuah profesi yang awet. Pengertian awet di sini artinya dari dulu sampai sekarang profesi ini tetap ada dan masih tetap dibutuhkan bahkan di zaman sekarang semakin banyak orang yang berprofesi sebagai agen asuransi khusus nya agen asuransi jiwa.

Hal ini bisa dilihat dari data AAJI dimana agen asuransi jiwa yang tersertifikasi semakin meningkat dari tahu ke tahun.

Kenapa bisa demikian? Jawabannya karena profesi sebagai agen asuransi jiwa ini dapat memberikan masa depan yang menjanjikan serta cerah jika ditekuni secara serius. Saya memperhatikan sendiri beberapa saudara atau teman yang dulunya berprofesi sebagai agen asuransi jiwa dan sampai sekarang masih menekuni profesi ini, kehidupan nya serba berkecukupan bahkan berkelimpahan (dari segi finansial).

Logikanya seperti ini. Jika profesi sebagai agen asuransi jiwa ini tidak menjanjikan, tentunya saudara maupun teman saya itu sudah beralih profesi dari sejak jauh jauh hari bukan?

Untuk apa mereka berkutat untuk menjalani profesi sebagai agen asuransi jiwa ini selama puluhan tahun jika hasil yang didapat tidak sepadan dan tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang telah mereka habiskan di sini. Masuk akal? Jika setuju, silahkan teruskan membaca ya.

Namun memang ada sebuah perbedaan yang mencolok jika kita melihat orang orang yang menjadi agen asuransi jiwa di masa yang lalu dengan orang orang yang menjadi agen asuransi jiwa di masa sekarang.

Di masa yang lalu, seorang agen asuransi banyak didominasi oleh orang orang ‘buangan’, dalam arti kata mereka sudah tidak diterima di sejumlah pekerjaan yang lain. Sehingga daripada menganggur, mereka mencoba untuk bekerja sebagai agen asuransi jiwa.

Toh tidak ada persyaratan yang berat untuk menjadi agen. Siapapun bisa dan boleh menjadi agen dan saat itu perusahaan asuransi  menerima siapa saja yang mau menjadi agen asuransi jiwa.

Karena bagi perusahaan asuransi, mereka juga tidak ada kewajiban untuk membayar gaji setiap bulannya. Agen dibayar berdasarkan komisi dan komisi itu dihitung berdasarkan omset/ penjualan yang berhasil dilakukan oleh si agen. Jadi jika si agen tidak ada penjualan sama sekali, maka tidak ada juga komisi yang akan dia bawa pulang.

Jadi perusahaan asuransi juga tidak ada beban bahkan mereka untung karena banyak orang orang yang mau bergabung menjadi agen asuransi. Sayangnya banyak orang yang bergabung itu tidak memiliki kompetensi. Jadi asal comot saja.

Kondisi ini memperparah citra perusahaan asuransi di masa itu karena ulah agen agen nya yang tidak profesional. Dengan kemampuan yang terbatas, mereka menjual asuransi kepada calon nasabah tidak dengan presentasi yang tepat, namun lebih ke arah minta dikasihani.

Sehingga timbul nasabah yang membeli produk asuransi karena kasihan pada agennya, atau tidak tahan didatangi agen asuransi secara terus menerus. Jadi kedatangan agen asuransi lebih banyak mengganggu aktivitas orang lain.

Pekerjaan agen asuransi yang dijalani tidak dilandasi visi jangka panjang, melainkan hanya merupakan kerjaan aji mumpung (pekerjaan sementara daripada menganggur) menyebabkan mereka tidak berpikir ke arah memberikan pelayanan yang terbaik kepada para nasabah.

Saat itu agen asuransi hanya berpikir untuk mendapatkan premi nasabah, yang otomatis mereka mendapat komisi. Sehingga pada saat nasabah membutuhkan bantuan sehubungan dengan polisnya sang agen susah untuk dihubungi, bahkan banyak yang menghilang tanpa berita.

Kondisi makin diperburuk, ketika situasi perbankan belum semaju saat ini. Di kala itu sistem perbankan masih membutuhkan kehadiran nasabah dengan menyetor secara langsung, membuat nasabah enggan menyetor sendiri preminya. Jalan pintas yang ditempuh adalah menitipkan preminya kepada agennya.

Dengan cara ini membuka peluang seorang agen untuk mempermainkan uang nasabahnya. Ketidak siapan mental membawa uang nasabah yang seharusnya bukan menjadi haknya, membuatnya seorang agen tergoda untuk memakai untuk keperluan pribadinya.

Semula hanya untuk dipinjam pakai sejenak, namun lama lama menumpuk dan akhirnya premi yang seharusnya disetorkan ke perusahaan tidak sanggup dilakukannya. Akibat premi yang tidak disetor, berakibat polis tidak pernah issued. Atau bila itu premi lanjutan, mengakibatkan polis menjadi lapse.

Dan ketika terjadi klaim, maka perusahaan asuransi tidak membayar klaim itu. Nasabah marah, dan timbullah generalisasi akan sebuah profesi. Kalau seorang agen asuransi adalah penipu. Agen asuransi itu tidak ada yang benar, maka secara otomatis perusahaan asuransi juga ikut terkena imbas akan citra tersebut.

Yang pada akhirnya timbul tuduhan kalau semuaPerusahaan Asuransi Penipu !!

Namun patut disyukuri kalau hari ini situasi tersebut sudah jarang terjadi. Saat ini profesi agen asuransi sudah menuju ke era sebagai seorang pebisnis yang profesional. Bahkan di Allianz, sebutan untuk agen asuransi lebih keren lagi. Yaitu seorang Life Changer.

Mengapa disebut Life Changer?

Karena peran seorang agen asuransi di Allianz sangat besar sekali. Karena melalui produk asuransi yang ditawarkan kita mampu untuk mengubah hidup banyak orang, mencegah keluarga keluarga dari ancama kebangkrutan finansial, membantu setiap keluarga untuk memproteksi dan melindungi penghasilan mereka jangan sampai hilang saat terjadi risiko kehidupan.

Bahkan kita juga turut mengubah hidup banyak orang menjadi lebih baik dari segi finansial dengan mengajak mereka untuk menjadi seorang Allianz Life Changer juga.

Banyak orang orang yang tadinya sangat struggle dalam mengarungi kehidupannya sekarang dapat hidup serba berkecukupan.

Bahkan ada yang telah berhasil mencapai goal atau impiannya selama ini seperti ingin membahagiakan orang tua nya, membahagiakan keluarganya, dapat memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak anak nya, dapat memberikan taraf hidup yang lebih baik bagi orang orang yang dikasihi, dapat membeli rumah/ hunian yang didam idamkan selama ini, dapat jalan jalan ke luar negeri setiap tahun dan lain lain.

Intinya apapun impian Anda, semua nya dapat terwujud jika Anda memutuskan untuk bergabung menjadi seorang Allianz Life Changer. Di sini Anda tidak hanya diajarkan untuk menjadi seorang agen asuransi. Namun mindset Anda akan dirubah menjadi seorang pebisnis, pebisnis asuransi Allianz.

daftar menjadi agen asuransi allianz