Bangga Menjadi Agen Asuransi Allianz

Bila kita bertemu dengan sekelompok anak kecil, usia anak TK atau anak SD, dan kita bertanya apa cita cita mereka? Ada yang menyebut Dokter, Arsitek, Polisi, Pilot…dan sejumlah profesi lainnya. Tetapi anehnya tidak ada yang mengatakan, saya ingin menjadi Agen Asuransi.

Sejak awal memang sudah disadari bahwa profesi sebagai agen asuransi jiwa adalah profesi yang tidak membanggakan. Bahkan cenderung boleh disebut profesi yang memalukan. Seakan akan, sudah tidak ada tempat di pekerjaan yang lain, maka jalan terakhir adalah menjadi agen asuransi jiwa.

Bahkan bila seseorang yang dulunya seorang wiraswasta, entah itu pengusaha depot, pengusaha toko, atau profesional semacam arsitek, dokter, guru musik, bila akhirnya masuk dunia bisnis asuransi jiwa dan berprofesi sebagai agen asuransi jiwa, maka lingkungan, kolega, atau keluarganya menganggap bahwa usahanya bangkrut atau gagal.

Sehingga sampai hari ini, bila saya berjumpa teman yang bekerja di bank, apalagi bank ternama atau asing, ketika ditanya kerja dimana, dia akan berkata tegas, atau berjabat tangan tegas, menyebut nama institusinya dengan penuh percaya diri. Mereka sangat bangga dengan profesi mereka. Ditunjang dengan dukungan moral yang diberikan teman, lingkungan, dan keluarganya.

Lain bila saya berjumpa dengan banyak agen asuransi jiwa, khususnya yang pemula atau junior. Ketika ditanya orang, kerja dimana? Maka mereka akan dengan malu malu menyebutkan nama perusahaan asuransinya, tapi ditambah dengan penjelasan kalau mereka sebenarnya masih coba coba, masih membantu teman, atau sejumlah alasan lain yang menunjukkan ketidak percayaan diri terhadap profesinya.

Itulah fakta dan kenyataan yang terjadi di kehidupan kita. Ditambah dengan bagaimana keluarga yang tidak mendukung suami, istri, adik, atau anaknya ketika memilih untuk masuk dunia bisnis asuransi jiwa. Mereka beranggapan bahwa bisnis di asuransi jiwa itu adalah bisnis yang tidak tetap penghasilannya dan tidak punya masa depan. Bahkan banyak yang beranggapan bahwa profesi ini banyak menipu orang lain. Paradigma yang salah inilah yang masih diikuti oleh masyarakat kita.

Mereka tidak tahu, bahwa sebagai agenasuransi jiwa itu mempunyai tugas yang sangat mulia. Membuat setiap keluarga mempunyai perlindungan financial, dan berbagi resiko kepada pihak lain.

Berapa banyak yang kita tahu, bahwa banyak keluarga yang ditinggalkan oleh sumber penghasilannya, baik bapak atau ibunya, atau bahkan pasangannya (suami atau istri nya) sehingga anak anak nya jadi tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi atau tidak bisa meneruskan ke sekolah yang diidamkan, dan terpaksa masuk ke sekolah atau jurusan yang tidak sesuai dengan keinginannya karena faktor biaya.

Berapa banyak keluarga yang harus jatuh miskin atau berhutang, akibat salah satu dari anggota keluarganya yang menderita sakit kritis yang berkepanjangan.

Atau berapa banyak orang tua yang pada masa tuanya, ketika mereka sudah pensiun dari pekerjaannya, harus menggantungkan hidupnya pada anak anak. Mereka tidak mempunyai tabungan yang cukup untuk membiayai hidup mereka saat tidak bekerja lagi. Ironisnya pada saat yang sama, anak anak mereka juga harus memikirkan pengeluaran keluarga dan sekolah anak anaknya.

Kenyataan hidup di atas terjadi karena pada saat yang lalu mereka tidak mempunyai perencanaan keuangan keluarga, atau yang lebih tepatnya mereka tidak mempunyai polis asuransi jiwa.

Justru dengan kehadiran agen asuransi jiwa lah yang pada akhirnya akan membuka mata hati dan pikiran banyak keluarga di Indonesia, agar mereka mengerti pentingnya memiliki program perencanaan keuangan bagi keluarganya.

Para agen asuransi kadang harus menerima penolakan dari yang paling halus, sampai penolakan yang cenderung kasar seakan akan mereka hanya mengejar komisi semata, sehingga harus bermuka tebal. Padahal sejatinya mereka mempunyai tujuan yang mulia yaitu yang menjual sesuatu yang sangat bermanfaat bagi setiap keluarga yaitu proteksi penghasilan atau proteksi income.

Kalau masyarakat masih memandang profesi kita dengan sebelah mata, artinya masih meremehkan, sekalipun apa yang kita lakukan semua semata mata demi manfaat jangka panjang bagi yang membelinya. Maka tidak ada alasan lagi, bahwa kita semua harus mendapat penghasilan di atas rata rata dibanding profesi lainnya.

Saya sering mengatakan, bila kita masuk di bisnis asuransi jiwa maka tidak ada alasan untuk kita tidak sukses. Dan bila penghasilan kita, setelah berbisnis lebih dari 1 tahun, hanya berada di kisaran Rp. 2 hingga 3 juta, (tanpa bermaksud mengecilkan nominal tersebut) Anda boleh tinggalkan bisnis ini. Karena kalau hanya di kisaran angka tersebut, masih banyak profesi lain yang bisa memberikannya. Oleh karena itu, dengan menjadi agen asuransi, Anda harus kaya, tidak ada pilihan lain.

Jadi tentukan impian Anda, tentukan waktunya, dan bila melalui profesi yang lain hal tersebut susah atau tidak mungkin diraih, maka jalankan dengan tekun bisnis asuransi jiwa. Percayalah Anda pasti bisa meraih impian Anda di bisnis ini.

Jika Anda ingin terjun di bisnis asuransi yang memiliki sistem yang bagus, produk yang bagus, dan perusahaan nya juga bagus maka Anda bisa bergabung untuk menjadi mitra/agen di bisnis asuransi Allianz. Kami sedang mencari mitra/agen di seluruh daerah di Indonesia. Jadi dimanapun domisili Anda sekarang, kesempatan Anda sangat terbuka lebar untuk menjajal profesi ini.

daftar menjadi agen asuransi allianz