Bandingkan Profesi Agen Asuransi Allianz

Dalam banyak kesempatan sering saya membandingkan profesi sebagai agen asuransi Allianz ini dengan profesi atau pekerjaan lain yang sifatnya bukan karyawan, dimana yang dalam memperoleh penghasilannya bukan karena gaji. Tapi benar benar penghasilan yang diterima berasal dari hasil kerjanya. Jadi tergantung pada kemampuan diri sendiri. Semakin kerja keras, semakin cerdas, akan semakin banyak penghasilannya.

Pernahkah Anda berpikir berapa modal seorang pengemudi taksi argometer? Status mereka juga bukan karyawan. Mereka pekerja komisi dan bonus. Mereka bekerja dengan fisiknya. Mereka bekerja bukan pasif menunggu order, tapi mereka harus berpikir, agar tidak terlalu banyak berkeliling tanpa mendapat penumpang.

Karena mereka harus membeli bensin sendiri. Mereka harus punya strategi, pada jam jam tertentu harus berada di daerah mana. Kadang harus berangkat subuh. Berangkat lebih awal untuk bersaing dengan sesama pemgemudi agar mendapat order awal mengantar penumpang ke airport.

Karena bagi mereka bila di pagi hari mendapat penumpang ke airport, maka mereka sudah menang di awal. Pada umumnya argometer ke airport di kisaran 100 ribuan. Mereka curi start setiap hari. Agar penghasilan awal pagi hari sudah 30 % dari total target sehari. Mereka berpacu dengan waktu. Berhentipun harus berpikir, dimana lokasi terbaik, yang memungkinkan mendapat penumpang lagi.

Sekarang menurut Anda berapa potensi penghasilannya? Yang benar benar bekerja maksimal dan bekerja cerdas, penghasilan mereka di kisaran 5 – 6 juta per bulan. Dan, berapa modal mereka? Tanpa modal? Tidak! Mereka perlu SIM (minimal) A Umum. Dan biayanya tidak kurang dari 500 ribu.

Bagaimana dengan penjual nasi goreng gerobak, yang harus menjajakan jualannya keliling dari rumah ke rumah. Berapa potensi income nya? Ketika saya membeli nasi goreng, saya bertanya juga kepada penjualnya. Potensi income dia maksimal adalah sebanyak “gentong nasi” yang berada dalam gerobak. Sebanyak 6 kg beras yang sudah menjadi nasi.

Untuk memperbanyak nasi yang dibawa harus membawa gerobak yang lebih besar. Otomatis lebih berat dalam mendorongnya. Yang normal bisa memuat 6 kg nasi. Jam kerja mereka berangkat sekitar jam 5 sore dan pulang bila sudah habis, atau sudah lewat jam 01 dini hari.

Dan bila habis semua menghasilkan 60 porsi. Harga per porsi 12 ribu. Maka omset per harinya maksimal 720 ribu. Anggap saja keuntungan bersihnya 50% maka penghasilan per hari 360 ribu. Bila dia bekerja penuh selama sebulan 30 hari, maka 10,8 juta per bulan.

Itu adalah hasil maksimal. Bila potensinya dengan segala resiko, tidak selalu habis tiap malam, dan tidak bekerja penuh selama sebulan, mungkin kisaran 6 juta akan jadi rasional. Setuju?

Sekarang kira kira berapa modalnya? Jangan hanya menghitung modal bahan bahan makanan, beras, bumbu masak, kecap botol, sayur, minyak, dll. Namum modal awalnya adalah berapa harga gerobaknya?

Apakah bisa didapat dengan harga 3 juta rupiah. Sekalipun mungkin harga bekas. Dengan potensi income di kisaran 6 juta per bulan, maka diperlukan jutaan rupiah juga modalnya.

Ketika saya mendarat di salah satu airport di Jawa Tengah, dan saya memanggil porter bandara untuk membantu saya mengambil bagasi. Di saat menunggu bagasi turun, saya sempat menanyakan tentang pekerjaan dia. Yang cukup mengejutkan saya, ketika dia mengatakan bahwa dia tiap hari harus membayar kehadirannya. Artinya dia seperti ‘menyewa’ lahan.

Dengan membayar uang tertentu, dia berhak memakai baju seragam porter resmi bandara. Dan penumpang bisa menggunakan jasanya untuk membantu mengambil dan mengangkat barang bagasi.

Membayar loh. Bukan dibayar per bulan. Dan mereka bekerja bukan berdasarkan kerja keras. Namun berdasarkan urutan kerja dengan teman teman porter yang lain.

Kalau mereka tidak membayar, maka kesempatan menjadi porter akan diambil oleh orang lain yang sudah mengantri. Dan hampir semua porter sudah bekerja puluhan tahun. Tiap hari untuk memperoleh penghasilan harus keluar modal dulu.

Saya sama sekali tidak bermaksud membandingkan profesi Agen asuransi jiwa dengan pengemudi taxi, penjual nasi goreng, ataupun porter. Saya hanya memberi gambaran, bahwa profesi profesi itu membutuhkan pola pikir sebagai wiraswasta.

Karena mereka berani mengeluarkan modal tertentu dengan resiko yang bisa diukur oleh mereka berdasarkan kemampuan mereka masing masing. Karena kalau sempat bertanya, kepada pengemudi taxi latar belakang pendidikan mereka, tidak sedikit atau boleh dikatakan cukup banyak yang berpendidikan S1.

Dengan dalih tidak bisa bersaing dengan ijasah S1 mereka, dan memilih untuk menjadi pengemudi taxi. Dan penghasilan mereka justru lebih besar daripada penghasilan S1 rata rata yang menjadi karyawan biasa.

Anda juga bisa membandingkan penjual nasi goreng yang mungkin hanya lulusan SMA, dan punya kemampuan memasak yang diajarkan oleh keluarganya, namun punya penghasilan di atas karyawan biasa dengan latar belakang pendidikan S1. Sekalipun kadang profesi mereka tidak memperoleh kebanggaan di lingkungan sosial mereka.

Jika dibandingkan semua profesi yang telah disebutkan di atas dengan profesi agen asuransi Allianz, maka semua nya sama sama membutuhkan modal untuk memulai nya selayaknya membuka sebuah bisnis. Namun bedanya profesi agen asuransi Allianz memberikan potensi penghasilan yang jauh lebih besar daripada profesi lain yang disebutkan tadi. Karena apa?

Karena di bisnis asuransi Allianz ini adalah bisnis sistem yang bekerja. Sistem bisnis ini akan memberikan daya ungkit yang besar untuk membantu agen asuransi Allianz yang benar benar mau bekerja keras dan berjuang untuk meraih impiannya masing masing.

daftar menjadi agen asuransi allianz